Selasa, 08 Desember 2009

metilit

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di Negara yang sedang berkembang angka kematiin bayi dan anak relative lebih tinggi bila disbanding dengan Negara-negara maju. Penyebab utama kematiin adalah penyakit infeksi dan parasit, serta banyak diantaranya yang berhubungan kekurangan gizi.
Gizi meliputi bahan makanan yang kita konsumsi yang terdiri dari zat-zat gizi atau nutrient. Nutrient oleh tubuh untuk melakukan fungsinya yaitu menghasilkan energy kehidupan (Almatsir, 2002).
Status gizi secara langsung ditentukan oleh asupan makanan dan penyakit, khususnya penyakit infeksi. Berbagai factor melatarbelakangi kedua factor tersebut. Misalnya factor ekonomi, keluarga, produksi pangan, kondisi perumahan, ketidaktahuan dan pelayanan kesehatan yang kurang baik. Factor yang berperan langsung terhadap status gizi dan menentukan daya beli terutama makanan adalah penghasilan keluarga, tersedia atau tidaknya makanan dalam keluarga akan menentukan kualitas dan kuantitas bahan makanan yang dikonsumsi oleh anggota keluarga yang sekaligus mempunyai asuapan zat gizi (Sarjito, 1996).
Anak balita merupakan salah satu golongan penduduk yang rawan terhadap masalah gizi. Mereka mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat pada rentang waktu ini sehingga membutuhkan suplai makanan dan gizi dalam jumlah yang cukup dan memadai. Kurang gizi pada masa balita dapat menimbulkan gangguan tumbuh kembang secara fisik, mental, social dan intelektual yang sifatnya menetap dan terus dibawa sampai anak menjadi dewasa (Depkes RI, 1993).
Peranan keluarga terutama ibu dalam mengasuh anak sangat menentukan tumbuh kembang anak. Pengasuh (ibu, bapak, nenek, saudara atau orang lain) dalam memberikan makanan, pemeliharaan kesehatan, memberikan stimuli, serta dukungan emosional yang dibutuhkan anak tumbuh kembang. Pengasuh yang baik sangat penting untuk dapat menjamin tumbuh kembang anak yang optimal.
Peranan gizi dan pola asuh terhadap kualitas tumbuh kembang anak terbukti signifikan. Pada anak yang kurang gizi pada tingkat tertentu menyebabkan berat otak, jumlah sel, ukuran besar sel, dan zat-zat biokimia lainnya lebih rendah daripada anak yang normal. Makin mudah anak yang menderita kurang gizi makin berat akibat yang ditimbulkannya. Penyuluhan gizi kesehatan yang efektif meningkatkan prilaku kemampuan dalam mengasuh anak menuju peningkatan kualitas sumber daya manusia yang lebih baik (Anwar, 2000).
Di desa Pegandon sebagian besar Ibu-ibu bekerja di Luar negeri sebagai TKW sehingga banyak balita yang diasuh oleh Bapak, nenek atau orang lain yang hal ini dapat memungkinkan keadaan status gizi balita menurun yang dilihat dari berat badan balita.
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan peneliti pada tanggal 20 Oktober 2009 di Desa Pegandon dari 70 balita terdapat 45 balita mengalami penurunan berat badan. Setelah dikaji ulang, 45 balita yang mengalami penurunan berat badan tersebut adalah balita yang diasuh oleh selain ibu, sedangkan 25 balita yang diasuh oleh ibu tidak mengalami penurunan berat badan.
Sehubungan dengan hal tersebut diatas maka dipandang perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui perbedaan berat badan balita yang diasuh ibu dan berat badan balita yang diasuh oleh selain ibu di Desa Pegandon.

B. Rumusan masalah
Di desa Pegandon banyak balita yang ditinggal ibunya ke luar negeri, mereka diasuh oleh ayah, nenek atau paman dan bibi. Berdasarkan dari data di Desa Pegandon 3 bulan ini dari jumlah 70 balita terdapat 45 balita yang mengalami penurunan berat badan.
Maka yang menjadi pertanyaan penelitian “Adakah perbedaan berat badan balita yang diasuh ibu dan yang diasuh selain ibu di Desa Pegandon?”

C. Tujuan penelitian
1. Tujuan umum
Mengetahui perbedaan berat badan balita yang diasuh oleh ibu dan yang diasuh oleh selain ibu di Desa Pegandon.
2. Tujuan khusus
a. Mengetahui berat badan balita yang diasuh oleh ibu
b. Mengetahui berat badan balita yang diasuh oleh selain ibu
c. Mengetahui perbedaan berat badan balita yang diasuh oleh ibu dan yang diasuh selain ibu.

D. Manfaat
1. Bagi masyarakat
Memberikan informasi pada ibu-ibu balita, kader kesehatan, dan petugas kesehatan lain yang terlibat di Desa Pegandon tentang perbedaan berat badan balita yang diasuh oleh ibu dan yang diasuh oleh selain ibu.
2. Bagi Institusi pendidikan
Menambah kepustakaan sehingga yang membaca hasil penelitian ini lebih mengetahui tentang perbedaan berat badan balita yang diasuh oleh ibu dan yang diasuh selain ibu.
3. Bagi peneliti
Menambah pengetahuan dan penerapan teori yang telah diperoleh selama perkuliahan.














BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


A. Pola Asuh
1. Pengetian Pola Asuh
Pola asuh menurut Darling (1999) adalah aktivitas kompleks yang me.ibatkan banyak prilaku spesifik yang bekerja secara individual dan bersama-sama untuk mempengaruhi anak. Sedangkan Huxley (2002) pola asuh merupakan cara dimana orang tua menyampaikan/menetapkan kepercayaan mereka tentang bagaimana mereka menjadi orang tua yang baik atau buruk. Sementara itu Gunarsa (1995) pola asuh merupakan cara orang tua bertindak sebagai orang tua terhadap anak-anaknya dimana mereka melakukan serangkaian usaha aktif.
Harsey & Blanchard (1978) mengemukakan bahwa pola asuh merupakan bentuk dari kepemimpinan yaitu proses yang mempengaruhi seseorang. Dalam hal ini peran kepemimpinan orang tua adalah ketika mereka mencoba memberi pengaruh yang kuat pada anaknya (Siregar, 2006).
Berdasarkan uraian diatas dapat dikatakan bahwa pola asuh adalah proses yang mempengaruhi seseorang, dimana orang tua menanamkan nilai-nilai yang dipercaya kepada anak dalam bentuk interaksi yang meliputi kepemimpinan, pengasuhan, mendidik, membimbing dan melindungi anak (Siregar, 2006).

2. Factor-faktor yang mempengaruhi pola asuh
a. Jenis Kelamin
Orang tua pada umumnya cenderung lebih keras terhadap anak wanita disbanding terhadap anak laki-laki
b. Kebudayaan
Latar belakang menciptakan perbedaan dalam pola pengasuhan anak. Hal rkait dengan perbedaan peran antara perempuan dan laki-laki didalam suatu kebudayaan masyarakat.


c. Status social
Orang tua kelas menengah dan rendah cenderung lebih keras, memaksa dan kurang toleran disbanding mer eka yang dari kelas atas,tetapi mereka lebih konsestan (Siregar, 2006).

3. Hakekat mengasuh anak
Adalah proses mendidik agar kepribadian anak dapat berkembang dengan balita ketika dewasa jadi bertanggung jawab. Pola asuh yang baik menjadiakan anak berkepribadian kuat, tidak mudah putus asa dan tangguh menghadapi tekanan hidup. Sebaliknya pola asuh yang salah menjadikan rentan terhadp stress, mudah terjerumus pada hal-hal yang negative seperti tawuran, perilaku seks bebas, cemas dan depresi
Mengasuh anak melibatkan seluruh aspek kepribadian anak , jasmani, intelektual, emosional, keterampilan, nilai dan norma. Hakikat mengasuh anak meliputi pemberian kasih saying dan rasa aman, sekaligus disiplin dan contoh yang baik, karenanya diperlukan suasana kehidupan keluarga yang stabil dan bahagia (Siregar, 2006).

4. Tahapan Cara Mengasuh anak usia 0 – 5 tahun
Sesuai dengan perkembangan dibagi menjadi 4 tahap :
a. Sejak dalam kandungan
Kesehatan anak di dalam kandungan dipengaruhi oleh keadaan kesehatan ibunya, bila ibu sakit fisik ( misalnya infeksi) maka anak dalam kandungan dapat tertular, bila ibu stress anak dalam kandungan dapat terpengaruhi. Karena itu ibu perlu mempersiapkan diri dengan baik agar anak dalam kandungan sehat fisik dan mental. Suar ibu adaalah suara yang paling sering didengar anak. Suara keras atau lembut ibu akan diikuti anak setiap waktu. Ibu harus selalu tenang, jika ibu sering cemas, sedih, ketakutan dan marah, maka setelah lahir anak bias menjadi rewel, selalu gelisah dan sulit menyesuaikan diri.
b. Sejak lahir sampai 1,5 tahun
Anak dalam kandungan hidup serba teratur, hangat dan penuh perlindungan. Setelah dilahirkan ia bergantung pada orang lain terutama ibu atau pengasuhnya. Anak perlu dibantu untuk mempertahankan hidupnya. Tahap ini untuk mengembangkan rasa percaya pada lingkungannya. Bila rasa percaya tak didapat, maka timbul rasa tekanan, kekuatan dan kecemasan. Baik belum bias bercakap – cakap untuk menyampaikan keuinginannya. Ia baru bias menangis untuk menarik perhatian orang. Tangisan menunjukkan bahwa bayi membutuhkan bantuan. Ibu harus belajar mengerti maksud tangisan bayi. Otak bayi berkembang pesat. Untuk itu, perlu gizi dan stimulasi indra yang baik. ASI adalah makanan yang paling baik untuk bayi. Dengan pemberian ASI, bayi akan didekap ke dada sehingga merasakan kehangatan tubuh ibu dan terjalinlah hubungan kasih saying antara bayi dan ibunya. Segala hal yang dapat mengganggu proses menyusui dalam hubungan ibu anak pada tahap ini akaan menyebabkan terganggunya pembentukan rasa aman dan rasa percaya diri. Gangguan yang dapat timbul pada tahap ini adalah kesulitan makan, mudah marah, menolak yang baru, sikap dan tingkah laku yang seolah – olah ingin melekat pada ibu dan menolak lingkungan (Siregar, 2006).
c. Usia 1,5 – 3 tahun
Pertumbuhan fisik matang, anak sudah bias berjalan. Ia mulai menyadari bahwa gerakan badannnya dapat diatur sendiri, dikuasai dan digunakannya untuk suatu maksud. Tahapan ini merupakan tahap pembentukan kebiasaan diri. Aspek psikososialnya, anak bergerak dan berbuat sesuai kemauan sendiri, meraih apa yang bisa dijangkau, dapat memuat yang dikehendaki atau menolak yang dikehendaki. Pada tahap ini, akannertanam dalam diri anak perasaan otonomi diri makan sendiri, pakai baju sendiri, dan lain –lain. Hal ini jadi dasar terbentuknya rasa yakin pada diri dan harga diri di kemudian hari.
Orang tua hendaklah mendorong agar anak dapat bergerak bebas, menghargai dan meyakini kemampuannya. Usahakan anak mau bermain dengan anak yang lain untuk mengetahui aturan permainan. Bacakan buku dongeng setiap hari dan dorong ia agar mau menceritakan kembali. Sering kali timbul masalah dalam hal makan. Jika anak dipaksa makan, maka ia akan menolak. Orang tua bisa bercerita yang ada hubungannya dengan makanan, untuk anak usia di bawah 3 tahun, dongeng tentang binatang lebih menarik perhatian, dan lebih mudah dimengerti. Jika terdapat gangguan dalam mencapai rasa otonomi diri, anak akan dikuasai rasa malu, ragu – ragu serta pengekangan diri yang berlebihan. Sebaliknya dapat juga terjadi melawan dan berontak. Gangguan yang timbul pada tahp ini, anak sulit makan, suka ngadat dan ngambek, menentang, dan keras kepala, suka menyerang atau agresif. Konsep ruang dan sebab akibat mulai berkembang. Mulai mengenal nama-nama di sekitarnya dan mulai menggolong – golongkan serta membedakan benda berdasarkan kegunaannya. Bahasa mulai berkembang dan mulai menirukan kata – kata perilaku orang di sekitarnya walau belum mengerti (Siregar).
d. Usia 3 – 6 tahun (pra sekolah)
Dengan meningkatnya kemampuan berbahasa dan kemampuan anak melakukan kegiatan yang bertujuan anak mulai memperhatikan dan berinteraksi dengan dunia sekitarnya. Anak bersifat ingin tahu, banyak bertanya dan neniru kegiatan skitarnya, melibatkan diri dalam kegiatan bersama dan menunjukan inisiatif untuk mengerjakan Sesutu tapi tidak mementingkan hasilnya, mulai melihat adanya perbedaan jenis kelamin kadang-kadang terpaku pada alat kelaminnya sendiri (Siregar, 2006).
Pada tahap ini Ayah punya peran penting bagi anak. Anak laki-laki merasa lebih sayang pada ibunya dan anak perempuan lebih saying pada ayahnya. Melalui peristiwa ini anak dapat mengalami perasaan sayang, benci, iri hati, bersaing, memiliki dan lain-lain. Ia dapat pula mengalami perasaan takut dan cemas. Disini kerja sama ayah dan ibu amat penting artinya.Jika anak laki – laki meniru ibunya memakai pemerah bibir, cepat beritahukan bahwa kebiasan itu bukan untuk laki-laki. Jangan dianggap lucu, karena kalau sudah terlanjur disukainya akan sulit diperbaiki.
Yang diperlukan anak seusai ini adalah melatih kemampuan fisik, kemampuan berfikir, mendorong anak mau bergaul, dan mengembangkan angan-angan. Pada tahap ini aspek intelektualnya mulai berkembang lebih nyata tentang konsep ruang dan waktu, mulai mengenal bentuk-bentuk dua dan tiga dimebsi, warna-warna dasar, symbol-simbol angka, matematika dan huruf. Gangguan yang dapat timbul pada tahap ini adalah masalah pergaulan dengan teman, pasif dan takut berbuat sesuatu, takut mengemukakan sesuatu serta kurang kemauan, masalah belajar dan merasa bersalah (www.mediaindo.co.id)
5. Tipe-Tipe Pola Asuh Orang Tua Kepada Anak :
a. Pola Asuh Permisif
Pola asuh permisif adalah jenis pola mengasuh anak yang cuek terhadap anak. Jadi apa pun yang mau dilakukan anak diperbolehkan seperti tidak sekolah, bandel, melakukan banyak kegiatan maksiat, pergaulan bebas negatif, matrialistis, dan sebagainya.
Biasanya pola pengasuhan anak oleh orangtua semacam ini diakibatkan oleh orangtua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan, kesibukan atau urusan lain yang akhirnya lupa untuk mendidik dan mengasuh anak dengan baik. Dengan begitu anak hanya diberi materi atau harta saja dan terserah anak itu mau tumbuh dan berkembang menjadi apa.
Anak yang diasuh orangtuanya dengan metode semacam ini nantinya bisa berkembang menjadi anak yang kurang perhatian, merasa tidak berarti, rendah diri, nakal, memiliki kemampuan sosialisasi yang buruk, kontrol diri buruk, salah bergaul, kurang menghargai orang lain, dan lain sebagainya baik ketika kecil maupun sudah dewasa.
b. Pola Asuh Otoriter
Pola asuh otoriter adalah pola pengasuhan anak yang bersifat pemaksaan, keras dan kaku di mana orangtua akan membuat berbagai aturan yang saklek harus dipatuhi oleh anak-anaknya tanpa mau tahu perasaan sang anak. Orang tua akan emosi dan marah jika anak melakukan hal yang tidak sesuai dengan yang diinginkan oleh orang tuanya.
Hukuman mental dan fisik akan sering diterima oleh anak-anak dengan alasan agar anak terus tetap patuh dan disiplin serta menghormati orang-tua yang telah membesarkannya.
Angka yang besar dengan teknik asuhan anak seperti ini biasanya tidak bahagia, paranoid / selalu berada dalam ketakutan, mudah sedih dan tertekan, senang berada di luar rumah, benci orangtua, dan lain-lain. Namun di balik itu biasanya anak hasil didikan ortu otoriter lebih bisa mandiri, bisa menjadi orang sesuai keinginan orang tua, lebih disiplin dan lebih bertanggungjawab dalam menjalani hidup.
c. Pola Asuh Otoritatif
Pola asuh otoritatif adalah pola asuh orangtua pada anak yang memberi kebebasan pada anak untuk berkreasi dan mengeksplorasi berbagai hal sesuai dengan kemampuan anak dengan sensor batasan dan pengawasan yang baik dari orangtua. Pola asuh ini adalah pola asuh yang cocok dan baik untuk diterapkan para orangtua kepada anak-anaknya.
Anak yang diasuh dengan tehnik asuhan otoritatip akan hidup ceria, menyenangkan, kreatif, cerdas, percaya diri, terbuka pada orangtua, menghargai dan menghormati orangtua, tidak mudah stres dan depresi, berprestasi baik, disukai lingkungan dan masyarakat dan lain-lain (www.Google.com).

6. Perbedaan Balita yang Diasuh Ibu dan selain Ibu
a. Balita yang diasuh ibu
Pola pengasuhan anak berpengaruh signifikan terhadap timbulnya kasus-kasu gizi buruk. Anak yang diasuh sendiri oleh ibunya dengan kasih saying mengerti pentingnya ASI, manfaat posyandu dan kebersihan sehingga anak tetap bersih.
Anak perlu diasuh karena mengalami proses perkembangan dan pertumbuhan. Perkembangan anak terjadi melalui beberapa tahap, dan setiap tahapan mempunyai ciri dan tuntutan tersendiri, pengasuhan anak perlu disesuaikan dengantahapan perkembangan tersebut, unsu pendidikan wanita berpengaruh pada kualitas pengasuhan anak.
Pola asuh ibu merupakan factor yang sangat menentukan tumbuh kembang anak yang merupakan ciri kualitas sumber daya keluarga didalam mewujudkan pola asuh ini adalah factor eksternal yang turut berperan yakni status social ekonomi keluarga yang mencakup pendapatan, pendidikan, interaksi social,dan nilai-nilai dalam keluarga.
Untuk bisa mengembangkan pola asuh yang sehat, persyarat penting adalah pendidikan, beban kerja, serta tidak adanya pengasuh alternatif. Ibu berpendidikan tinggi akan lebih giat mencari dan meningkatkan pengetahuan serta ketrampilan memelihara anak, mereka juga akan menaruh perhatian lebih besar pada konsep sehat untuk seluruh anggota keluarga sehingga ana-anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik(Siregar, 2006).
Pembentukan kepribadian seorang anak dimulai ketika anak berumut 0-5 tahun. Anak akan belajar dari orang-orang yang sering marah, memukul dan melakukan tindakan kekerasan lainnya, anak tersebut juga akan tumbuhnya pribadi yang keras, sehingga mengakibatkan dampang negatif bagi pertumbuhan dan kepribadian anak pada usi selanjutnya. Seperti kasus-kasus kenakalan remaja, keterlibatan anak dalam dunia narkoba, dan sebagainya karena kepribadian di masa kanak-kanak yang tidak terbentuk dengan baik. Untuk itulah ibu yang bekerja di dalam rumah pun harus mampu mengatur waktu denga bijaksana, tetapi ayah harus juga ikut menolong ibu untuk malakukan tugas-tugas rumah tangga sehingga keutuhan dan keharmonisan rumah tanggapun akan tetap terjaga dengan baik (Siregar, 2006).

b. Balita yang diasuh selain Ibu
Status gizi sebagian besar anak yang diasuh adalah normal, namun masih diketemukan adanya anak dengan status gizi lebih,sedang dan kurang. Perkembangan sebagian anak yang diasuh adalah normal tapi masih dijumpai adanya keterlambatan perkembangan pada setiap anak yang diasuh.
Anak mayoritas diasuh bukan ibu kandungnya, karena sang ibu menjadi tenaga kerja luar negeri, sehingga diasuh orang tua laki-laki (bapak) maupun nenek yang tidak memperhatikan pemberian makanan bergizi, sehingga menyebabkan anak menjadi gizi buruk (Retno, 2005).
Adanya kebiasaan, mitos ataupun kepercayaan/adat istiadat masyarakat tertentu yang tidak benar dalam pemberian makanan akan sangat merugikan anak misalnya, kebiasaan memberi minum bayi banyak dengan air putih, memberikan makanan padat terlalu dini, berpantang tertentu (misalnya tidak memberikan anak-anak daging, telur dan lain-lain) sehingga menghilangkan kesempatan anak untuk mendapatkan asupan lemak dan protein (www.mediaindo.co.id).
Ibu-ibu yang bekerja daerah dari pagi sampai sore tanpa menyiapkan makanan buat anaknya (makan pagi, siang, malam) dan hanya menyediakan uang untuk membeli makanan atau menyuruh pembantu untuk masak, yang menjadi masalah adalah tentang kualitas gizi makanan keluarga yang ditinggal ibu, karena anak dan pembantu belum mengerti tentang ar gti makanan bergizi, mungkin saja mereka akan membeli makanan hanya berupa jajan. Demikian statusnya berhari –nhari sampai bertahun – tahun, sehingga kekurangan gizi ini akan terakumulasi yang menyebabkan daya tahan tubuh keluarga sehingga menjadi kurang baik sehinggga akan mudah jatuh sakit.
Tetapi ada juga penelitian di India yang membuktikan tumbuh kembang anak balita yang tidak diasuh ibunya akibat ibu bekerja ternyata lebih baik disbanding ibu tidak bekerja dan hanya mengandalkan penghasilan suami yang kurang untuk emncukupi kebutuhan rumah tangga sehingga akan mengakibatkan defisit konsumsi gizi (Retno, 2005).

B. Berat Badan Balita
1. Pengertian
Berat badan merupakan ukuran antropometri yang terpenting, dipakai pada setiap kesempatan memeriksa kesehatan anak pada semua kelompok umur. Berat badan merupakan hasil peningkatan atau penurunan semua jaringan yang ada pada tubuh, antara lain tulang, otot, lemak, cairan tubuh, dan lain-lainnya. Berat badan dipakai sebagai indikator yang terbaik pada saat ini untuk mengetahui keadaan gizi dan tumbuh kembang anak, sensitif terhadap perubahan sedikit saja, pengukuran obyektif dan dapat di ulangi, kemudian dapat digunakan timbangan apa saja yang relatif murah, mudah dan tidak memerlukan banyak waktu. Kerugiaanyan, indikator berat badan ini tidak sensitif terhadap proporsi tubuh misalnya, pendek – gemuk / tinggi – kurus.
Perlu di ketahui , bahwa terdapat fluktuasi wajar dalam sehari sebagai akibat masukan ( intake ) makanan dan minuman, dengan keluaran ( out put ) melalui urin, feses, keringat, dan bernafas. Besarnya fluktuasi tergantung pada kelompok umur dan bersifat sangat individual, yang berkisar antara 100 – 200 gram, sampai 500 – 1000 gram bahkan lebih, sehingga dapt mempengarui hasil penelitian (Soetjiningsih, 1995).
Indikator berat badan dimanfaatkan dalam klinik untuk :
1. Bahan informasi untuk menilai keadaan gizi baik yang akut maupun yang kronis, tumbuh kembang dan kesehatan.
2. Memonitor keadaan kesehatan, misalnya pada pengobatan penyakit.
3. Dasar perhitungan dosis obat dan makanan yang perlu diberikan.

2. Factor – factor yang mempengaruhi berat badan balita
Berat badan balita secara langsung ditentukan oleh asupan makanan dan penyakit, khususnya penyakit infeksi. Berbagai macam factor tidak langsung melatar belakangi kedua factor tersebut, misalnya factor ekonomi keluarga, produksi pangan, kondisi perumahan, ketidaktahuan, dan pelayanan kesehatan yang kurang baik ( Sarjito, 1996 ).



a. Factor social ekonomi
Faktor ekonomi merupakan factor yang mempengaruhi kedua yang berperan langsung terhadap berat badan, karena penghasilan keluarga mempengaruhi mutu fasilitas perumahan, penyediaan air bersih dan sanitasi yang pada dasarnya sangat berperan pada tumbuhnya penyakit infeksi, terutama infeksi saluran nafas dan saluran pencernaan. Penghasilan keluarga juga menentukan daya beli keluarga akan menentukan kualitas dan kuantitas bahan makanan yang dikonsumsi oleh anggota yang sekaligus mempengaruhi asupan zat gizi. (sarjito, 1996).

b. Faktor pertanian
Factor pertanian di anggap penting karena kemampuan penghasilan produksi pangan. Hasil pangan bukan hanya di pengaruhi oleh tersedianya bibit yang baik, pupuk, obat pembasmi hama dan irigasi saja, tetapi juga factor tenaga kerja di bidang pertanian. Efek negative dapat terjadi kalau orang yang berpendidikan tinggi lebih menyukai pekerjaan kantor dari pada disawah. (sarjito, 1996 ).

c. Faktor budaya
Factor budaya atau kepercayaan untuk memantang makanan tertentu yang bergizi masih ada di masyarakat, khususnya di tujukan kepada golongan rawan gizi , seperti balita, wanita hamil, dan menyusui sehingga dengan adanya makanan pantang kebutuhan zat gizi tidak dapat terpenuhi secara optimal.(sarjito, 1996).

d. Faktor pendidikan
Factor pendidikan merupakan factor tidak langsung karena tingkat pendidikan bukan satu-satunya faktor yang menentukan kemampuan seseorang dalam menyusun dan menyiapkan hidangan yang bergizi, namun factor pendidikan dapat mempengaruhi kemampuan menyerap kemampuan gizi yang di peroleh. (sarjito, 1996).

e. Faktor pekerjaan
Factor pekerjaan ibu juga dianggap mempunyai peran yang penting. Ibu yang bekerja mempunyai pengaruh negative terhadap bayinya karena berpengaruh terhadap pemberian asi, yaitu bila mana ibu bekerja lebih dari 40 jam dalam seminggu, apabila dengan upah yang minimum (Sarjito, 1996).

f. Kebersihan lingkungan dan Faktor pelayanan kesehatan
Faktor kebersihan lingkungan dan factor fasilitas pelayanan kesehatan sangat penting, kebersihan lingkungan yang jelek akan memudahkan anak menderita penyakit tertentu seperti infeksi saluran pencernaan, infeksi saluran nafas dan penyakit p[arasit. Sedangkan fasilitas pelayanan kesehatan sangat penting untuk menyokonh status kesehatan dan gizi anak yang baik, bukan hanya dari segi kuratif, tetapi juga preventif, promotif dan rehabilitative. Pada anak balita, semakin buruk tingkat gizi maka akan semakin besar pelu ang kematian. Oleh karena itu pendeteksian secara dini sangat di perlukan untuk penanggulangannya (Sarjito, 1996).

g. Faktor pola asuh
Pola pengasuhan anak adalah kemampuan keluarga dan masyarakat untuk menyediakan waktu, perhatian, dan dukungan terhadap anak agar tumbuh dan berkembang sebaik-baiknya secara fisik, mental dan social. Pola pengasuhan anak berupa sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain dalam kedekatanya terhadap anak, misalnya :memberikan makan, merawat anak, personal hygiene, member kasih sayang dan sebagainya. Pertumbuhan dan perkembangan anak untuk mencapai potensi tubuh yang optimal merupakan hasil dari tercukupinya kebutuhan zat gisi pada jumlah, kombinasi dan waktu yang tepat. Keadaan ini hanya bisa di capai bila kondisi social ekonomi semakin baik dan merata (Anwar, 2000).

3. Penilaian berat badan
Penilaian berat badan balita dapat ditentukan dengan pengukuran antropometri. Secara umum antropometri tubuh balita di tinjau dari sudut pandang gizi, maka antara antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Secara umum antropometri di gunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh (I Nyoman, 2001).
Penilaian berat badan balita dapat di bagi tiga yaitu survey konsumsi makanan dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang di konsumsi, pengukuran status gizi dengan statistic dengan menganalisis data beberapa statistikkesehatan seperti angka kesakitan dan kematian, factor ekologi sebagai hasil interaksi beberapa factor (fisik, biologis, lingkungan budaya). (Sarjito, 1996)
Hal mendasar yang perlu di ingat bahwa setiap metode penelitian status gizi mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Salah satu factor yang perlu di pertimbangkan dalam memilih dan menggunakan metode tersebut adalah tujuan pengukuran. Apabila suatu pengukuran bertujuan untuk melihat yang akan dilihat adalah status vitamin A, dan mineral, metode yang sebaiknya di gunakan adalah biokimia. Diantara ketiga pengukuran antropometri merupakan yang relataif paling sederhana, mudah, murah dan banyak di lakukan. Langkah-langkah menentukan status gizi dengan antropometri yaitu dengan melakukan pengukuran berat badan, panjang/tinggi badan, lingkar lengan atas, lingkar kepala, lingkar dada, dan tebal lipat kulit (sarjito, 1996).

















C. Kerangka Teori
Kerangka teori adalah penjelasan mengenai fenomena denganjalan menghubungkan satu variable dengan variable yang lain dan menjelaskan bagaimana antar variable tersebut (Ari Udiyono 2007).






Faktor Sosial Ekonomi
Faktor Pertanian
Faktor Budaya
Faktor Pendidikan
Faktor Pekerjaan
Faktor Lingkungan
Faktor fasilitas Kesehatan
Balita yang
diasuh ibu
Faktor Pola Asuh

Balita yang
diasuh selain
ibu







BAB III
METODE PENELITIAN


A. Desain penelitian
Metode penelitian dilakukan dalam penelitian ini adalah survey analitik yaitu penelitian yang mencoba menggali bagaimana dan mengapa fenomena kesehatan itu terjadi (Notoatmodjo,2002). Kemudian melakukan analisis dinamika korelasi antara fenomena, baik antara factor resiko dengan factor efek, antar factor resiko, maupun antar factor efek.
Pendekatan yang digunakan cass control yaitu penelitian survey yang menyangkut bagaimana factor resiko dipelajari dengan menggunakan pendekatan retrospektif. Factor efek diidentifikasi saat ini, factor resiko diidentifikasi adanya atau terjadinya pada waktu yang lalu (Notoatmodjo,2002).

B. Kerangka konsep











C. Variabel Penelitian
Variable mengandung pengertian ukuran atau cirri yang di miliki oleh anggota-anggota suatu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok lain (notoatmojo, 2002).
Dlam penelitian ini yang akan diteliti terbatas pada variable dependen yaitu berat badan ibu yang di asuh oleh ibu dan berat badan balita yang di asuh oleh selain ibu.

D. Definisi Operasional
Variabel DO Cara ukur Hasil ukur Skala ukur
BB balita yg diasuh oleh ibu Hasil atau angka yang diperoleh dari pemberian nutrisi oleh ibu Menimbang BB dengan timbangan Dacin Normal:
1 thn
Gemuk > 11 kg
Normal 8 – 10 kg
Kurus < 8 kg
2 thn
Gemuk > 14 kg
Normal 10-14 kg
Kurus <10 kg
3 thn
Gemuk >16 kg
Normal 12-16 kg
Kurus <12 kg
4 thn
Gemuk >18 kg
Normal 13-18 kg
Kurus <13 kg
5 thn
Gemuk >20 kg
Normal 15-20 kg
Kurus <15kg
Gemuk >20 kg
Normal 15-20 kg
Kurus <15 kg

Rasio
BB balita yg di asuh selain ibu Keberhasilan dari pemberian nutrisi oleh selain ibu Menimbang BB dengan timbangan Dacin 1 thn
Gemuk > 11 kg
Normal 8 – 10 kg
Kurus < 8 kg
2 thn
Gemuk > 14 kg
Normal 10-14 kg
Kurus <10 kg
3 thn
Gemuk >16 kg
Normal 12-16 kg
Kurus <12 kg
4 thn
Gemuk >18 kg
Normal 13-18 kg
Kurus <13 kg
5 thn
Gemuk >20 kg
Normal 15-20 kg
Kurus <15 kg
Rasio


E. Hipotesa
Ada perbedaan antara berat badan balita yang di asuh oleh ibu dan yang di asuh oleh selain ibu.

F. Populasi dan sampel
1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan dari subyek penelitian (Notoatmodjo, 2002).
Populasi dalam penelitian ini adalah balita di Desa Pegandon.

2. Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang di teliti. (notoatmodjo, 2002)
Sampel dalam penelitian ini adalah balita di Desa Pegandon pada bulan Agustus sampai Oktober 2009 yaitu 25 balita yang diasuh oleh ibu dan 45 balita yang diasuh oleh selain ibu.
3. Sampling
Sampling adalah Proses dalam menyeleksi sampil yang akan di gunakan dalam penelitian.(notoatmodjo, 2002)
Sampling dalam penelitian ini adalah sampling jenuh yaitu pengambilan sampel dengan mengambil semua populasi.

G. Kriteria Inklusi dan Eksklusi
1. Kriteria Inklusi adalah karakteristik umum subyek penelitian dari suatu populasi target atau terjangkau yang akan di teliti( Nur Salam, 2002)
Yang termasuk kriteria Inklusi dalam penelitian ini adalah : Data Balita yang tercatat di Desa Pegandon.
2. Kriteria Eksklusi adalah menghilangkan atau mengeluarkan subyek yang memiliki kriteria inklusi dari studi karena berbagai sebab.
Yang termasuk kriteria Eksklusi dalam penelitian ini adalah : Data Balita yang datanya tidak lengkap.



H. Tempat dan waktu penelitian
1. Tempat penelitian
Penelitian dilakukan di posyandu Aisiyah Desa Rt 05 Rw 03 di desa pegandon.
2. Waktu penelitian
Penelitian dilakukan pada bulan oktober 2009.

I. Tehnik pengumpulan data
1. Data primer
Data primer adalah data yang di kumpulkan langsung oleh peneliti. Data yang dikumpulkan merupakan data yang langsung di peroleh dari responden penelitian.
2. Data sekunder
Yaitu data yang bukan di usahakan sendiri pengumpulannya oleh peneliti secara langsung dalam hal ini data sekunder yang di gunakan berupa anak balita, data ibu yang bekerja dan ibu rumah tangga.

J. Intrumen penelitian
Penelitian dalam pengumpulan data dengan mengumpulkan ibu dan balita di posyandu, kemudian dilakukan penimbangan pada masing-masing balita yang berasal dari blita yang diasuh ibu dan balita diasuh selain ibu yang ada didesa pegandon.
Untuk mendapatkan dari sampel yang cukup banyak peneliti bekerja sama dengan 5 orang kader posyandu yang sebelumnya telah dilatih tehnik penimbangan yang benar.




K. Tehnik pengolahan dan analisa data
1. Pengolahan data
a. Editing(koreksi)
Untuk mengoreksi data yang di peroleh dari hasil wawancara di lapangan secara langsung sehingga dapat langsung di lengkapi dan di sempurnakan.
b. Koding(kode)
Kegiatan mengubah data ke bentuk kode,agar mudah menganalisa data.
c. Tabulasai(tabel)
Kegiatan memasukan data yang telah di peroleh kedalam table sesuai dengan jenis variable.
2. Analisa Data
Data yang diperoleh selanjutnya dianalisa secara diskriptif dan analitik dengan analisa univariat dan bivariat.
a. Analisa univariat
Analisa univariat dilakukuan untuk menggambarkan variable dengan menggunakan table frekwensi dan prosentasi yang digunakan untuk mengetahui berat badan balita yang diasuh oleh ibu dan yang diasuh oleh selain ibu.




b. Analisa bivariat
Analisa bivariat untuk menguji perbedaan berat badan balita yang diasuh ibu dan yang diasuh selain ibu dalam hipotesa bila datanya tidak normal akan diadakan pengujian dengan menggunakan “Mann whitneyU” dengan rumus :
U1 = n1 n2 + n1 (n1+1) – R1
2
U1 = n1 n2 + n1(n1+1) – R2
2
Pengujian dipilih harga dengan U terkecil untuk dibandingkan dengan U table. Uji hipotesanya jika U hitung ≤ U table maka Ho ditolak dan Ha diterima. Artinya ada perbedaan antara berat badan balita pada balita yang diasuh ibu dan selain ibu. Kemudian pengolahan data dilakukan dengan program SPSS versi 12,0.

L. Etika Penelitian
Etika dalam penelitian kebidanan merupakan masalah sangat penting, mengingat penelitian kebidanan akan berhubungan langsung dengan manusia. Penelitian dilakukan setelah memperokleh ijin dari Puskesmas Pegandon untuk kemudian peneliti melakukan kegiatan penelitian dengan memperhatikan etika penelitian sebagai berikut :
1. Inform Consent (Lembar Persetujuan)
Lembar persetujuan penelitian diberikan kepada responden dengan tujuan subyek mengetahui maksud penelitian serta dampak penelitian selama pengumpulan data. Jika subyek telah memahami maka diharapkan mau mengisi dan tanda tangan sebagai bukti bahwa subyek bersedia menjadi responden tetapi apabila subyek tidak mau / menolak, peneliti tidak akan memaksa dan menghormati hak tersebut.

2. Anonymity (Kerahasiaan Nama)
Untuk menjaga kerahasiaan identitas subyek, peneliti tidak akan mencantumkan nama subyek pada lembar pengumpulan data. Lembar tersebut hanya diberi nomor kode tertentu yaitu dengan cara lembaran hanya ditulis initial dan nomor responden. Nomor responden satu bagi responden yang dilakukan pengukuran urutan pertama, nomor sample dua bagi responden yang dilakukan pengukuran urutan kedua dan seterusnya sampai jumlah sample terpenuhi.
3. Confidentiality
Kerahasiaan informasi yang diberikan oleh responden dan semua data terkait, dengan responden disimpan dan dijamin kerahasiaannya, serta hanya menjadi koleksi peneliti dengan cara disimpan sebagai arsip (Ari Udiyono, 2007 )


















DAFTAR PUSTAKA

Almatsir, Sunita. 2002. Prinsi Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Anwar, Husaeni Muhdin. 2001. Aspek Pengasuhan Anak. Depkes RI.
Depkes RI. 1993. Asuhan Kesehatan Anak dalam Kontak Keluarga.
dr. Soetjiningsih. 1995. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta : EGC.
Nyoman,Suparyasa I Dewa. 2001. Penilaian Status Gizi. Jakarta : EGC.
RSUP. Dr.Sarjito.1996. Pelatihan Gizi Klinik. Yokyakarta.
Siregar, Ade Rahmawati. 2006. Motivasi Berprestasi Ditinjau dari Pola Asuh.
Udiyono, Dr. H. Ari. 2007. Metodologi Penelitian Kesehatan. Semarang.
www.Google.com.
www.Mediaindo.co.id








DAFTAR BERAT BADAN BALITA YANG DI ASUH IBU
No Identitas Responden Jenis Kelamin Tgl Lahir Berat Badan Status Gizi
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15



DAFTAR BERAT BADAN YANG DIASUH SELAIN IBU
No Identitas Responden Jenis Kelamin Tgl Lahir Berat Badan Status Gizi
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15



M. Jadwal Penelitian
Jadwal Penelitian adalah tahap-tahap dengan rincian setiap kegiatan dan jangka waktunya (Ari Udiyono, 2007).

No Kegiatan oktober November Desember Januari Februari Maret
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Pengajuan judul
2 Penyusunan proposal

3 Bimbingan proposal
4 Pengumpulan proposal
5 Ujian proposal
6 Permohonan ijin
7 Pengumpulan data
8 Pengolahan data
9 Konsultasi hasil kegiatan
10 Penyusunan laporan
11 Pengumpulan KTI
12 Ujian KTI

0 komentar:

Template by : kendhin x-template.blogspot.com