Selasa, 08 Desember 2009

GSIBA

GSIBA
( Gerakan Sayang Ibu, Bayi dan Anak )

GSIBA adalah susatu gerakan yang dilaksanakan oleh masyarakat, bekerjasama dengan pemerintah untuk peningkatan perbaikan kualitas hidup perempuan melalui berbagai kegiatan yang mempunyai dampak terhadap upaya penurunan angka kematian ibu karena hamil, melahirkan dan nifas serta penurunan angka kematian bayi.

Gerakan Sayang Ibu dan Anak perlu dilakukan karena
1. Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas sangat menentukan keberhasilan suatu pembangunan.
2. Pembentukan kualitas SDM yang berkualitas ditentukan dari janin dalam kandungan, karena perkembangan otak terjadi selama hamil sampai dengan anak usia 5 tahun.
3. Oleh karena itu peningkatan kesehatan dan kesejahteraan ibu dan anak merupakan faktor paling strategis untuk meningkatkan mutu SDM.
4. Namun demikian bila dilihat dari Angka Kematian Ibu (AKI) karena hamil, bersalin dan nifas di Indonesia masih tinggi, bahkan tertinggi diantara negara-negara di ASEAN.
5. AKI di Indonesia sebesar:
1986 : 450 per 100.000 kelahiran hidup*
1994 : 390 per 100.000 kelahiran hidup**
1995 : 373 per 100.000 kelahiran hidup***
1997 : 334 per 100.000 kelahiran hidup**
2003 : 307 per 100.000 kelahiran hidup**
* Sumber data Susenas
** Sumber data SDKI
*** Sumber data SKRT
6. Sementara Angka Kematian Bayi adalah:
1997 : 52 per 1.000 kelahiran hidup**
2003 : 35 per 1.000 kelahiran hidup**
7. Tingginya AKI dan AKB di Indonesia akan memberikan dampak negatif pada berbagai aspek. Dampak yang ditimbulkan akibat anemia (kurang darah) pada ibu hamil adalah perdarahan pada saat melahirkan, berat bayi lahir rendah (BBLR), penurunan IQ point, bayi mudah terkena infeksi dan mudah menderita gizi buruk, sedangkan dampak sosial ekonomi akibat anemia adalah penurunan produktifitas.
8. Kematian ibu menyebabkan bayi menjadi piatu yang pada akhirnya akan menyebabkan penurunan kualitas SDM akibat kurangnya perhatian, bimbingan dan kasih sayang seorang ibu. Sedangkan kematian bayi menyebabkan ibu tidak mau lagi ikut program KB.
9. Oleh karena itu perlu suatu upaya dalam penurunan Angka Kematian Ibu dan bayi.

Tujuan Gerakan Sayang Ibu dan Anak
Bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, utamanya mempercepat penurunan angka kematian ibu, bayi dan anak.

Faktor Yang Mempengaruhi Tingginya Angka Kematian Ibu, Bayi dan Anak
1. Analisa faktor yang berpengaruh terhadap tingginya AKI, AKB dan AKABA di Indonesia dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu pendidikan dan pengetahuan, sosial budaya, sosial ekonomi, geografi dan lingkungan, aksesibilitas ibu pada fasilitas kesehatan serta kebijakan makro dalam kualitas pelayanan kesehatan.
2. kematian ibu dipengaruhi oleh penyebab langsung dan tidak langsung.
3. penyebab langsung kematian ibu adalah:
- Perdarahan
- Infeksi
- Keracunan kehamilan (Eklamsia)
- Partus lama
- Aborsi






4. Untuk memahami penyebab dasar kematian ibu, dapat digunakan model 3 terlambat ( UNICEF/UNFPA/WHO ), yaitu:
• Terlambat satu atau terlambat dalam mengenali tanda bahaya dan memutuskan untuk mencari pertolongan ke fasilitas kesehatan. Dapat disimpulkan bahwa faktor yang berpengaruh antara lain kurangnya kekuatan perempuan ibu hamil ) untuk mengambil keputusan, konsep penyakit dan seriusitas, faktor budaya dan tidak cukupnya informasi merupakan faktor-faktor yang turut menyumbang terjadinya terlambat satu ini.
• Terlambat dua atau terlambat dalam mencapai fasilitas pelayanan kesehatan yang memadai, dapat disimpulkan bahwa distribusi fasilitas kesehatan, waktu untuk mencapai fasilitas kesehatan dari rumah dan langkanya transportasi merupakan faktor utama yang mempengaruhi keterlambatan ibu hamil/nifas dalam mencapai fasilitas kesehatan.
• Terlambat tiga atau terlambat dalam menerima pelayanan kesehatan yang cukup memadai pada setiap tingkatan, dengan kata lain dapat berarti bahwa pelayanan kesehatan mempunyai kontribusi yang bermakna terhadap kejadian kematian, termasuk dalam berfungsinya sistem rujukan, kurangnya alat dan obat, tidak cukupnya tenaga kesehatan yang terlatih dan keberadaan tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan.

Kurangnya kekuatan perempuan untuk mengambil keputusan menunjukkan adanya kesenjangan gender dalam pengambilan keputusan di tingkat keluarga. Demikian pula dengan kurangnya pengetahuan perempuan mengenai kehamilan dan kesakitan menunjukkan masih rendahnya kualitas hidup perempuan.

5. Disamping faktor-faktor diatas, faktor lain yang mempunyai pengaruh terhadap tingginya angka kematian ibu adalah 4 terlalu, yaitu:
o Terlalu muda untuk menikah
o Terlalu sering hamil
o Terlalu banyak melahirkan
o Terlalu tua hamil
6. Sementara itu penyebab langsung kematian bayi adalah:
o Asphyxia (sesak nafas)
o Infeksi
o Trauma lahir
o Hipotermia (kedinginan)
o Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR)


Yang Harus Dipersiapkan Untuk GSIBA di Tingkat Desa / Kelurahan
1. Pembentukan Pokja (Kelompok Kerja) GSIBA Desa/Kelurahan.
2. Pendataan dan pembuatan peta ibu hamil
3. Pengorganisasian Tabulin
4. Pengorganisasian Ambulance Desa
5. Pengorganisasian donor darah
6. Pengorganisasian kemitraan dukun bayi dengan bidan
7. Pengorganisasian penghubung/liason
8. Pengorganisasiantata cara rujukan
9. Pengorganisasian Suami Siaga
10. Pembentukan Pondok Sayang Ibu
11. Pengorganisasian Amanat persalinan atau Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K).
12. Audit Maternal Perinatal (AMP) dan Otopsi Verbal Kematian
13. Keluarga Berencana
14. Inisiasi Menyusui Dini (IMD)
15. Manajemen Terpadu Bayi Muda Sakit (MTBM)
16. Pemantauan dan Rujukan KIA
17. Kelompok Pelestari ASI (KP-ASI)
18. Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) Balita.
19. Penyebarluasan informasi ke masyarakat dalam mengurangi kematian bayi
20. Penyuluhan pada tokoh mesyarakat, tokoh agama, keluarga ibu hamil, ibu bersalin dan ibu nifas
21. Pencatatan dan Pelaporan



1. Pembentukan Pokja (Kelompok Kerja) GSIBA Desa/Kelurahan
Pembentukan Pokja GSIBA desa/kelurahan dapat diawali dengan mengadakan pertemuan yang dihadiri oleh berbagai unsur masyarakat seperti Kepala Desa/Lurah, Sekertaris Desa/Kelurahan, LKMD,TP PKK, bidan di desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, LSM, swasta, dll.
Pada pertemuan tersebut disepakati bahwa Pokja GSIBA Desa/Kelurahan diketuai oleh Ketua I LPMD diterbitkan Surat Keputusan (SK) Kepala Desa/Lurah.
Susunan pengurus Pokja GSIBA Desa/Kelurahan disusun berdasarkan kesepakatan bersama. Dibawah ini adalah contoh susunan pengurus Pokja GSIBA Desa/ Kelurahan yang terdiri dari:
Penanggung jawab : Kepala Desa
Ketua Pelaksana : Ketua I LPMD
Sekretaris : Sekretaris Desa
Bendahara : TP PKK
Anggota : Seksi-seksi di LKMD, LSM, swasta, Aliansi Pita Putih, dll.
Susunan kepengurusan Pokja GSIBA desa/kelurahan dapat dibentuk sesuai dengan kondisi dengan kondisi masing-masing daerah.

Tugas Pokja GSIBA desa/kelurahan
1. Mengumpulkan data ibu hamil, ibu bersalin dan ibu nifas yang berasal dari kelompok TP PKK, dasawisma, kader, atau lainnya dan membuat peta bumil
2. Menyusun rencana kerja dalam mengorganisir Tabulin, Ambulance desa, donor darah, kemitraan dukun bayi dengan bidan, Penghubung/liason, Suami Siaga
3. Memberi tanda (stiker) pada rumah ibu hamil untuk kemudian dipantau dan informasikan ke bidan desa/bidan puskesmas
4. Membantu merujuk ibu hamil ke fasilitas kesehatan bila diperlukan
5. Melakukan penyuluhan pada tokoh masyarakat, tokoh agama, keluarga ibu hamil, ibu bersalin dan ibu nifas
6. Menyebarluaskan informasi ke masyarakat dalam mengurangi kematian bayi
7. Mencatat dan melaporkan kegiatan GSI ketingkat kecamatan
8. Membangun/membentuk Pondok Sayang Ibu (PSI) apabila diperlukan
2. Pendataan dan pembuatan peta ibu hamil
Tujuan:
Memantau ibu hamil, baik tempat tinggalnya maupun kapan melahirkan

Langkah-langkah
a. Hal pertama yang harus dilakukan adalah menemukan ibu hamil sedini mungkin. Untuk itu maka pendataan ibu hamil secara rutin harus dilakukan
b. Pendataan ibu hamil dapat dilakukan setiap 3 bulan sekali dan dilaksanakan oleh kelompok PKK, dasa wisma, kader, dukun bayi atau bidan
c. Data ibu hamil kemudian ditabulasi lengkap dengan nama, haid terakhir, tafsiran persalinan dan rencana persalinan yang berisi tempat ingin bersalin apakah di Puskesmas, Rumah Sakit Polindes, di rumah sendiri dan rencana penolong persalinan apakah oleh bidan (nama bidan) atau oleh dukun (nama dukun) yang didampingi oleh bidan.
d. Ibu hamil yang telah didata kemudian dibuatkan peta per desa atau per dusun, peta menunjukkan antara lain:
- Lokasi rumah ibu hamil
- Lokasi rumah bidan di desa dan rumah dukun
- Lokasi rumah pemilik pondok Sayang Ibu
- Jarak dari desa/dusun ke rumah sakit atau puskesmas serta perkiraan waktu tempuh ke rumah sakit apabila bumil perlu dirujuk
e. Pembuatan peta bumil dapat dilakukan oleh bidan desa/bidan puskesmas bersama dengan anggota Pokja GSIBA Desa/Kelurahan yang lain
f. Peta bumil dapat ditempel di kantor desa/kelurahan atau rumah bidan desa atau PKD atau rumah dukun bayi untuk memudahkan pemantauan.

3. Pengorganisasian TABULIN
Tujuan:
Membantu ibu bersalin yang tidak mampu untuk membiayai persalinandi fasilitas kesehatan seperti bidan/puskesmas/rumah sakit

Langkah:
a. Satgas GSIBA Desa/Kelurahan memfasilitasi warganya dalam penggalangan tabungan untuk ibu bersalin, hingga tersedia danauntuk biaya persalinan oleh tenaga kesehatan
b. Tabungan ibu bersalin dapat disediakan oleh ibu hamil itu sendiri atau oleh masyarakat
c. Mekanisme pengorganisasian dana dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah

4. Pengorganisasian Ambulance Desa
Tujuan:
Memfasilitasi ibu hamil yang perlu dibawa/dirujuk ke pelayanan kesehatan seperti bidan / puskesmas / RS.
Mekanisme pengorganisasian ambulance desa disasuaikan dengan kondisi / kesepakatan masing-masing daerah







Ambulance desa tidak harus berupa mobil ambulance tetapi dapat berupa alat transportasi lain yang dapat membawa ibu hamil ke tempat pelayanan kesehatan seperti becak, mobil roda 4 milik warga yang dipinjamkan.

5. Pengorganisasian Donor Darah
Tujuan:
Membantu bumil yang memerlukan darah pada saat persalinan.
a. Mekanisme pengorganisasian donor darah bagi bumil yang memerlukan disesuaikan / tergantung masing-masing daerah
b. Pokja GSIBA Desa/Kelurahan menawarkan kepada warganya yang bersedia menjadi pendonor darah untuk bumil
c. Pemetaan golongan darah untuk bumil
d. Pemetaan golongan darah bagi pendonor darah
e. Diberitahukan kepada pendonor darah bahwa sewaktu-waktu diperlukan, mereka bersedia
f. Apabila ada bumil yang akan bersalin, para pendonor darah ikut serta ke tempat pelayanan kesehatan
g. Dikuatkan dengan SK Kepala Desa / Kelurahan


6. Pengorganisasian Kemitraan Dukun Bayi dan Bidan
Tujuan:
Memfasilitasi ibu hamil agar persalinannya ditolong oleh tenaga kesehatan.
Mekanisme pengorganisasian kemitraan dukun bayi dengan bidan disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah.
Bupati Pemalang melalui Surat Edaran nomor 441.7/3080 tanggal 10 Juni 2003 menyatakan bahwa Kabupaten Pemalang sebagai Kabupaten dengan Persalinan Aman.

Persalinan aman akan terlaksana aman bila:
a. Setiap persalinan dilayani oleh Tenaga Kesehatan yang terlatih (Dokter dan Bidan terlatih).
b. Setiap komplikasi memperoleh pertolongan di Puskesmas PONED dan RS PONEK.
c. Setiap persalinan harus diinginkan

Perlu diketahui bahwa penurunan AKI dan AKB akan lebih cepat penurunannya apabila pertolongan persalinan oleh Bidan / Dokter dan Dukun Bayi sebagai Mitra Kerja bertugas merawat Ibu dan Bayi setelah persalinan.

7. Pengorganisasian Penghubung / liason
Tujuan:
Sebagai penghubung bila ada bumil yang akan melahirkan atau merujuk ke fasilitas kesehatan.
Pengembangan mekanisme penghubung antara pihak-pihak terkait seperti bidan, dukun, kades, donor darah, transportasi bila ada persalinan atau rujukan diatur oleh masing-masing daerah. Penghubung / liason adalah seseorang yang ditunjuk oleh satgas GSIBA bila ada persalinan atau rujukan. Penghubung dapat tukang ojek atau yang lainnya.

8. Pengembangan Tata Cara Rujukan
Masalah mendasar yang dihadapi oleh ibu bersalin di tingkat keluarga adalah ibu tidak punya kekuatan untuk memutuskan apakah dirinya perlu dirujuk ke fasilitas kesehatan atau tidak, dan masalah lainnya adalah tingkat ekonomi yang rendah dari suatu keluarga sehingga tidak mampu untuk merujuk/membawa ibu ke fasilitas kesehatan.
Pada saat rujukan harus siap BAKSOKUDA (Bidan, Alat, Keluarga, Surat, Obat, Kendaraan, Uang, Darah).
Oleh karena itu, peran Kepala Desa/Lurah sangat penting dalam hal ini, untuk membujuk keluarga ibu hamil agar dirujuk ke fasilitas kesehatan.

9. Pengorganisasian SUAMI SIAGA
Tujuan:
Meningkatkan kepedulian laki-laki terutama suami terhadap ibu hamil, ibu bersalin dan ibu nifas dalam:
- Meningkatkan kesadaran laki-laki tentang pentingnya keterlibatan mereka dalam kehamilan istrinya.
- Meningkatkan pengetahuan kaum laki-laki tentang tanda-tanda komplikasi sebelum, selama, dan setelah persalinan.
- Meningkatkan jumlah pasangan yang cenderung menggunakan bidan pada saat persalinan.
- Memotivasi toma dan masyarakat untuk mengembangkan donor darah dan transportasi pada situasi darurat.

10. Pengembangan Pondok Sayang Ibu (PSI)
Tujuan:
Membantu bumil yang akan melahirkan yang tempat tinggalnya jauh dari pelayanan kesehatan untuk diberikan tempat singgah sebelum ke fasilitas kesehatan.
• PSI tidak harus berupa bangunan baru atau khusus.
• PSI dapat memanfaatkan ruang / kamar di kantor desa / kelurahan / instansi lain atau rumah tinggal masyarakat yang letaknya dekat dengan fasilitas pelayanan kesehatan.

11. Pengorganisasian Amanat Persalinan Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K)
Merupakan terobosan percepatan penurunan angka kematian ibu dan salah satu kegiatan Desa Siaga. Melalui P4K dengan stiker yang ditempel di rumah ibu hamil, maka setiap ibu hamil akan tercatat, terdata dan terpantau secara tepat.
Tujuan:
a. Terdatanya sasaran ibu hamil dan terpasangnya stiker P4K di rumah ibu hamil agar diketahui:
- Lokasi tempat tinggal ibu hamil
- Identitas ibu hamil
- Taksiran persalinan
- Penolong persalinan, pendamping persalinan dan fasilitas tempat persalinan
- Calon donor darah, transportasi yang akan digunakan serta pembiayaan
b. Adanya Perencanaan Persalinan termasuk pemakaian metode KB pasca melahirkan yang sesuai dan disepakati ibu hamil, suami, keluarga dan bidan.
c. Terlaksananya pengambilan keputusan yang cepat dan tepat bila terjadi komplikasi selama kehamilan, persalinan dan nifas.
d. Adanya dukungan dari tokoh masyarakat, kader dan dukun




12. Audit Maternal Perinatal (AMP) dan Otopsi Verbal Kematian
Adalah pembahasan dan pelacakan kasus kematian ibu, bayi dan anak di masyarakat.
Setiap terjadi kematian ibu (hamil, bersalin, nifas), bayi dan anak wajib dilaporkan kepada petugas kesehatan agar segera dapat dilakukan pelacakan kasus oleh bidan dan dilaporkan ke Puskesmas serta Dinas Kesehatan Kabupaten Pemalang. Kasus kematian ini kemudian dibahas di masyarakat desa dalam suatu pertemuan untuk mencari penyebab kejadian kasus dan mencari solusi agar tidak terjadi kasus yang sama.

13. Keluarga Berencana
Keluarga Berencana sebagai upaya Pencegahan dan Pelayanan Kehamilan tidak diinginkan (KTD) dan Komplikasi.
Setiap pasangan yang sudah cukup anak perlu kontrasepsi mantap atau kontrasepsi efektif jangka panjang.

14. Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
Inisiasi Menyusui Dini (IMD) yaitu pemberian ASI dalam satu jam pertama kelahirannya merupakan langkah awal keberhasilan ASI eksklusif yaitu pemberian ASI saja selama enam bulan bagi bayi yang merupakan hal sangat penting dalam pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) sejak dini. Ketika dilahirkan bayi memiliki naluri untuk mencari sumber kehidupannya. Yang dibutuhkan hanyalah sentuhan kulit antara bayi dan ibunya dalam satu jam pertama kehidupannya.
Hasil penelitian terkini menunjukkan bahwa inisiasi menyusu dini dalam satu jam kelahirannya dapat meningkatkan keselamatan jiwa bayi dan mendorong keberhasilan pemberian ASI selanjutnya
Begitu lahir bayi dilap hingga bersih dan tanpa dibedong langsung diletakkan di atas dada ibunya, biarkan bayi tengkurap sehingga terjadi sentuhan antara kulit dada ibu dan kulit dada bayi dan reflek merangkak terjadi 20 – 50 mnt kemudian. Sentuhan kulit ibu dan bayi akan menjaga suhu tubuh bayi dan menghangatinya saat berusaha mencari putting susu ibu.
Dia akan segera mengeruk kolostrum yang sangat berharga. Kolostrum atau ASI yang pertama kali keluar akan merupakan imunisasi terutama dan pertama bagi bayi dan mengandung zat-zat kekebalan tubuh yang tidak dapat tergantikan Pemberian ASI juga dapat membentuk perkembangan intelegensia, rohani dan perkembangan emosional karena selama disusui dalam dekapan ibu, bayi bersentuhan langsung dengan ibu, sehingga mendapatkan kehangatan, kasih sayang dan rasa aman.
Bupati Pemalang melalui Surat nomor : 441.8/661/2008 mengintruksikan bahwa: “Inisiasi Menyusu Dini (IMD) pada bayi baru lahir harus dilaksanakan di Kabupaten Pemalang untuk keberhasilan ASI Eksklusif”
Diminta kepada seluruh jajaran pemerintah daerah, jajaran kesehatan dan non kesehatan, Camat, Kepala Kelurahan, Kepala Desa, Tim Penggerak PKK, Tim Assistensi GSIBA, Satgas GSIBA, Pokja GSIBA, organisasi kemasyarakatan, organisasi keagamaan, organisasi profesi, organisasi perempuan, kader kesehatan, konselor ASI, motivator ASI dan masyarakat luas untuk mendukung, mensosilisasikan dan melaksanakan ketentuan:
a. Periksakan ibu hamil minimal 4 kali selama kehamilan dan dilakukan perawatan payudara.
b. Berikan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) yaitu berikan kesempatan bayi mencari puting susu ibunya sendiri dan mendapatkan Air Susu Ibu (ASI) dalam satu jam pertama kelahirannya.
c. Berikan hanya Air Susu Ibu (ASI) saja kepada bayi selama 6 bulan
d. Bentuklah Kelompok Pelestari ASI (KP-ASI) yang siap menerima rujukan ibu dan bayi setelah bersalin.
e. Bidan wajib memberikan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) pada bayi baru lahir sedini mungkin dan tidak akan lagi menyediakan atau memberikan susu formula kecuali pada sebagian kecil yang benar-benar tidak bisa menyusu
f. Lakukan kegiatan pemantauan dan evaluasi di seluruh Kabupaten Pemalang.

15. Manajemen Terpadu Bayi Muda Sakit (MTBM)
Pelayanan Manajemen Terpadu Bayi Muda Sakit dilaksanakan oleh bidan desa dalam memberikan pelayanan kesehatan bayi pada saat kunjungan neonatal.

16. Pemantauan dan Rujukan KIA
Pemantauan dan rujukan Kesehatan Ibu dan Anak dilakukan oleh kader dasa wisma.
Kader Dasa Wisma adalah Kader kesehatan di setiap Dasa wisma dibekali dengan paket pegangan kader GSIBA (Buku Pegangan kader kesehatan ibu, Buku Pegangan Kader kesehatan anak, kartu rujukan)yang memantau kesehatan ibu dan anak di wilayah dasa wisma serta aktif memberikan penyuluhan, konsultasi ibu dan anak dan memberikan rujukan ke PKD atau puskesmas jika diperlukan.

17. Kelompok Pelestari ASI (KP-ASI)
Suatu kelompok di masyarakat yang beranggotakan tokoh masyarakat, perangkat desa dan masyarakat yang peduli terhadap pemberian ASI eksklusif Bertugas sebagai motivator ASI yang siap memberikan motivasi kepada ibu hamil untuk mendapatkan Inisiasi Menyusu Dini dan Ibu menyusui untuk memberikan ASI eksklusif.

18. Stimulasi Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) Balita
Kegiatan pemantauan tumbuh kembang balita dan intervensi dini jika penyimpangan pertumbuhan.
SDIDTK dapat dilakukan di posyandu atau BKB, jika ditemukan kelainan tumbuh kembang balita, segera dirujuk ke Puskesmas terdekat.

19. Menyebarluaskan Informasi ke Masyarakat dalam Mengurangi Kematian Bayi
Tujuan:
- Menginformasikan ke masyarakat dalam menanggulangi kematian bayi yang disebabkan karena kedinginan.
Adanya beberapa penyebab langsung kematian bayi, tetapi hanya kematian karena KEDINGINAN yang dapat ditolong oleh ibu, yaitu dengan menggunakan “metode kanguru”. Sebelum bayi mendapat pertolonganoleh tenaga kesehatan, ibu dapat memberikan pertolongan pertama yaitu dengan menempelkan bayi ke dada ibunya (kulit bayi bersentuhan dengan kulit ibu)
- Sedangkan penyebab kematian bayi yang lain seperti sesak nafas, infeksi, trauma lahir dan Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) HARUS mendapat pertolongan tenaga kesehatan atau dirujuk ke fasilitas kesehatan seperti puskesmas atau rumah sakit.
- Di samping itu bayi masih harus diberikan ASI eksklusif (hanya ASI saja sampai bayi berumur 6 bulan).

20. Penyuluhan pada TOMA, TOGA, Keluarga BUMIL
Tujuan:
Meningkatkan kesadaran tokoh masyarakat, tokoh agama dan keluarga bumil terhadap masalah kehamilan dan persalinan.
- Penyuluhan dapat dilakukan pada pertemuan tingkat desa baik pertemuan resmi maupun tidak resmi.
- Memasukkan agenda GSIBA dalam setiap pertemuan.

21. Pencatatan dan Pelaporan
Tujuan:
Mengetahui pelaksanaan kegiatan GSIBA tingkat Desa/Kelurahan. Pokja GSIBA desa mencatat data-data yang bersal dari bidan, kader TP PKK, masyarakat dalam hal: pendataan bumil / bulin / bufas, keberadaan tabulin, ambulance desa, donor darah, jumlah kematian ibu karena hamil, bersalin atau nifas, jumlah kematian bayi dan balita.
- Formulir pencatatan dan pelaporan GSIBA sudah tersedia hanya 1 lembar .
- Setiap bulan Pokja GSIBA desa diharapkan melaporkan ke Satgas GSIBA Kecamatan
- Melaporkan kejadian kematian ibu ke Satgas GSIBA Kecamatan
Mekanisme Pencatatan Dan Pelaporan Data GSIBA
Di tingkat Kelurahan/Desa pemantauan dan pengumpulan data ibu hamil, bersalin, ibu nifas dan ibu menyusui dilakukan di lapangan oleh kader GSIBA, bidan desa, PPLKB,dukun bayi di bawah koordinasi Pokja GSIBA tingkat Kelurahan/Desa.

0 komentar:

Template by : kendhin x-template.blogspot.com