Kamis, 10 Desember 2009

RUMUS PERHITUNGAN DOPAMIN

RUMUS PERHITUNGAN DOPAMIN

Dopamin ;1 ampul = 10 cc, 1 ampul = 200 mg , 1 mg = 1000 mikrogram

Rumus factor pengencer = 200.000 = 4000

50cc

Rumus : Dosis x BB x jam (menit ) = hasil

4000

Atau rumus langsung : Dosis x BB 60 x 50 = hasil

200.000

RUMUS PERHITUNGAN DOBUTAMIN

Dobutamin ; 1 ampul = 5 cc , 1 ampul = 250 mg , 1 mg = 1000 mikrogram

250 mg = 250.000 mikrogram

rumus factor pengencer = 250.000 = 5000

50cc

Rumus : Dosis x BB x jam (menit ) = hasil

5000

Atau rumus langsung : Dosis x BB x 60 x 50 = hasil

250.000

Rumus diatas digunakan untuk pemberian dopamine dan dobutamin dengan menggunakan syringe pump.

Rumus pemberian Dopamin dan Dobutamin dalam kolf / drip

Rumus = 200.000 = 400

500

= Dosis x BB x jam ( menit )

400

= hasil sesuai makro drip / mikrodrip

RUMUS PERHITUNGAN NITROCYNE

1 ampul = 10 cc , 1 cc = 1 mg, 1 ampul = 10 mg

Dosis yang digunakan dalam cc ( microgram ) jadi 1 ampul = 10.000 mikrogram

Rumus : Dosis x 60 x pengencer = hasil

10.000

RUMUS PERHITUNGAN ISOKET

1 ampul = 10 cc , 1 ampul = 10 mg , 1mg = 1cc

Isoket atau Cedocard diberikan sesuai dosis yang diberikan oleh dokter.


RUMUS PERHITUNGAN DARAH UNTUK TRANSFUSI

Rumus : Hb normal – Hb pasien = hasil

> hasil x BB x jenis darah

Keterangan :

Hb normal = Hb yang diharapkan atau Hb normal

Hb pasien = Hb pasien saat ini

Hasil = hasil pengurangan Hb normal dan Hb pasien

Jenis darah = darah yang dibutuhkan

= PRC dikalikan 3

= WB dikalikan 6

RUMUS PERHITUNGAN KOREKSI HIPOKALEMI PADA ANAK

Koreksi cepat

Yang dibutuhkan = ( jml K x BB x 0,4 ) + ( 2/6 x BB )

Diberikan dalam waktu 4 jam

Maintenance : 5 x BB x 2

6

Diberikan dalam 24 jam

Keterangan :

Jml K = nilai yang diharapkan ( 3,5 ) – nilai hasil kalian (x)

sumber: http://susternada.blogspot.com

Selasa, 08 Desember 2009

KEHAMILAN 1

BAB III
ASUHAN KEBIDANAN PADA KEHAMILAN NORMAL
TERHADAP Ny. SRI WAHYUNI
DI BPS NANIK ASMAWATI SEPUTIH RAMAN LAMPUNG TENGAH


I. Pengumpulan Data Dasar, Tanggal 03 Januari 2005 pukul 16.30 Wib
A. Pengkajian
1. Identitas
Nama Istri : Ny. Sri Wahyuni Nama Suami : Tn. Sutrisno
Umur : 25 th Umur : 28 th
Agama : Islam Agama : Islam
Suku : Jawa Suku : Jawa
Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Rama Nirwana Alamat : Rama Nirwana
Seputih Raman Seputih Raman
2. Keluhan Utama
Ibu datang untuk memeriksakan kandungannya, ibu hamil 9 bulan anak pertama, mengeluh badan pegal-pegal, dan cepat lelah
3. Riwayat Menstruasi
Menarche : 13 tahun
Siklus : 28 hari
Lamanya : 6-7 hari
Banyaknya : 2 x ganti softex
Keluhan : Tidak ada
HPHT : 20-04-2005
TP : 27-01-2006
Umur kehamilan saat ini 37 minggu
4. Riwayat Kehamilan Sekarang
a. - Trimester I
ANC : 2x di bidan
Kelurahan : mual, pusing dan muntah-muntah
Anjuran : banyaknya istirahat, hindari makanan berminyak dan berbau menyengat
Terapi : B6, Bkomplek, vocea
- Trimester II
ANC : 3x di bidan
Keluhan : tidak ada
Anjuran : kunjungan ulang, makan makanan yang bergizi
Terapi : tidak ada
- Trimester III
ANC : 2 x di bidan
Keluhan : pegal-pegal, merasa cepat lelah
Anjuran : banyak istirahat, anjurkan ibu agar rajin melakukan senam hamil
b. Tanda-tanda kehamilan (Trimester 1)
PP test 30 – 05 – 2005 : hasil positif
c. Pergerakan terus dirasakan pertama kali pada usia kehamilan 16 mingguu
d. Keluhan yang dirasakan
Mual dan muntah yang lama : tidak ada
Nyeri perut : tidak ada
Panas, menggigil : tidak ada
Sakit kepala : tidak ada
Penglihatan kabur : tidak ada
Rasa nyeri : tidak ada
Rasa gatal : tidak ada
Pengeluaran cairan : tidak ada
Oedema : tidak ada
5. Riwayat Kesehatan Ibu dan Keluarga
a. Data Kesehatan Ibu
Ibu tidak pernah dirawat di rumah sakit, penyakit keturunan tidak ada, tidak ada penyakit menular
b. Data Kesehatan Keluarga
Ibu mengatakan di dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit menular dan penyakit keturunan.
6. Pada Kebiasaan Sehari-Hari
a. Nutrisi
Sebelum hamil : Makan 3-4 x sehari dengan porsi sedang 1 piring nasi, lauk 1 potong tempe / tahu / kadang-kadang ikan, dengan 1 mangkok kecil sayur, dan 7-8 gelas air putih per hari.
Saat hamil : Ibu makan 3 x sehari porsi 1 piring nasi, lauk 1 potong tempe / tahu / ikan, dengan 1 mangkok sedang sayur, kadang-kadang buah dan susu, minum air putih 7-8 gelas/hari.
b. Eliminasi
Sebelum hamil : BAB 1 x sehari hari, BAK 4-5 x setiap hari
Saat hamil : BAB 1-2 x setiap hari, BAK 7-8 x setiap hari
c. Personal hygiene
Sebelum hamil : mandi 2 x sehari pagi dan sore
Saat hamil : mandi 3 x sehari pagi, siang, dan sore hari
d. Pola eliminasi
Sebelum hamil : tidur malam 7-8 jam/hari, tidur siang 1-2 jam/hari
Saat hamil : tidur malam 6-7 jam/hari, tidur siang 1-2 jam/hari
e. Olah raga
Jalan pagi-pagi 3x seminggu
f. Sexualitas
1-2 x dalam seminggu, tidak ada keluhan.
7. Imunisasi
TT lengkap :
TT1 pada usia kehamilan 5 bulan di bidan
TT2 pada usia kehamilan 6 bulan di bidan
8. Kontrasepsi
Ibu pernah belum pernah KB
9. Riwayat sosial
- Apakah kehamilan ini direncakan : ya
- Respon terhadap kehamilan : keluarga senang dengan kehamilan
- Status perkawinan : ibu menikah 1x, usia pernikahan 1 th
- Kepercayaan yang berhubungan : tidak ada

B. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan umum : baik
2. Tanda-tanda vital : TD : 110/70 mmHg
Pols : 82 x/m,nt
RR : 20 x per menit
Pols : 82 x/mnt
Temp : 37,20C
3. Tinggi badan : 155 cm
4. Berat badan : Sebelum hamil : 48 kg
Saat hamil : 58 kg
5. Ukuran lila : 24 cm
6. Inspeksi
- Rambut : terlihat bersih, tidak ada ketombe dan tidak mudah rontoh
- Mata : bentuk mata simetris, tidak ada pembengkakan pada kelopak mata, konjungtiva merah muda, sklera tidak ikterik.
- Hidung : bentuk simetris, keadaan bersih, tidak ada pembesaran polip hidung
- Gigi dan mulut : tidak ada kelainan bentuk pada mulut, tidak terdapat stomatitis, keadaan gigi bersih, tidak ada caries pada gigi, tidak ada gigi yang berlubang, jumlah gigi atas dan bawah lengkap.
- Telinga : keadaan bersih, bentuk simetris, tidak ada kotoran.
- Leher : a. Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid
b. Tidak ada pembesaran kelenjar limphe
c. Tidak ada pembengkakan vena jugularis
- Dada : Bentuk payudara simetris kanan dan kiri, pabila menonjol colostrum belum keluar, keadaan payudara bersih, terdapat hyperpigmentasi areola mamae.
- Abdomen : Keadaan pembearan abdomen sesuai dengan usia kehamilan terdapat linia nigra, tidak ada bekas operasi.
- Genetulin eksterna : - Tidak ada flour albus
- Tidak ada oedema
- Bekas luka episiotomi : tidak ada
- Hygiene : baik
- Haemoroid : tidak ada
- Ekstermitas
Atas : bentuk simetris, keadaan kuku bersih, keadaan kulit baik, turgor kulit baik, dapat digerakkan dengan baik, tidak ada kecacatan
Bawah : bentuk simetris, keadaan kuku bersih, keadaan kulit baik
7. Palpasi
Leopold I : TFU 3 jari bawah PX – pada fundus teraba lunak dan tidak melenting yang berarti bokong.
Leopold II : perut ibu sebelah kanan lebar dan memberikan tahanan yang besar, berarti punggung kanan
Leopold III : bagian terbawah janin teraba keras dan melenting bial digoyang yang berarti kepala.
TBJ (32-12) x 155 = 3100 gr
8. Auskultasi
DJJ terdengar pada daerah 3 jari bawah pusat sebelah kanan, dengan frekuensi 135 x/mnt
9. Perkusi : Reflek patella positif
10. Pemeriksaan Panggul Luar
Distansia spinarum : 25 cm
Distansia crsitarum : 27 cm
Konjugata eksterna : 19 cm
Lingkar panggul : 80 cm

II. Interprestasi Data Dasar, Diagnosa, Masalah dan Kebutuhan
1. Diagnosa
G1P0A0 hamil 38 minggu, janin tunggal, hidup, intra uterin, presentasi kepala.
Dasar :
- Ibu mengatakan hamil anak pertama.
- HPHT : 20-04-2005
- TP : 27-01-2006
- Pada auskultasi : DJJ terdengar jelas pada satu tempat 3 jari dibawah pusat sebelah kanan dengan frekuensi 135 x/mnt
- Pada palpasi
Leopold I : TFU 3 jari bawah PX
Leopold II : pada fundus teraba lunak dan tidak melenting yang berarti bokong.
Leopold III : bagian terbawa janin teraba keras dan melenting bila digoyangkan berarti kepala
TBJ : (32-12) x 155 = 3100 gr .
2. Masalah
Gangguan rasa nyaman : badan pegal-pegal dan cepat lelah
Dasar :
- Ibu mengatakan badan pegal – pegal dan cepat lelah
- Ibu hamil 36 mingguu
3. Kebutuhan
a. Penyuluhan tentang gizi ibu hamil
Dasar :
- Ibu mengatakan pegal – pegal dan cepat lelah
- Makan buah minum susu kadang-kadang

b. Penyuluhan tentang senam hamil
Dasar :
- Ibu mengeluh pegal-pegal dipinggang

III. Identifikasi Diagnosa dan Masalah Potensial
- Potensial adanya kelainan dalam kehamilan
Dasar : ibu primi gravida usia kehamilan 37 minggu

IV. Identifikasi Kebutuhan terhadap Tindakan dan Kolaborasi
- Kolaborasi dengan doker spesialis bila ada kelainan
Dasar : ibu primi gravida usia kehamilan 37 minggu

V. Rencana Management
1. Beritahu ibu tentang hasil pemeriksaan
a. Jelaskan kondisi ibu saat ini
b. Deteksi adanya kelainan
c. Anjurkan untuk memeriksakan kehamilan setiap minggu
d. Libatkan keluarga dalam memberikan dukungan ibu
2. Berikan informasi mengenai gizi ibu hamil
a. Jelaskan pada ibu mengenai makanan yang bergizi
b. Anjurkan ibu makan makanan TKTP
c. Ibu beri vitamin
3. Berikan informasi tentang senam hamil
a. Jelaskan pada ibu tentang pentingnya senam hamil pada masa persalinan.
b. Ajarkan pada ibu tentang gerakan senam hamil
c. Anjurkan pada ibu untuk melakukan senam hamil setiap pagi hari
d. Evaluasi kemampuan ibu untuk mengulang yang sudah diajarkan


VI. Implementasi Langsung
1. Memberitahu ibu tentang hasil pemeriksaan
a. Menjelaskan kondisi ibu saat ini
b. Mendeteksi adanya kelainan atau komplikasi dengan cara melakukan pemeriksaan TTV, leopold, oedema
c. Menganjurkan untuk memeriksakan kehamilan setiap minggu
d. Melibatkan untuk memeriksakan kehamilan setiap minggu
e. Melibatkan keluarga dalam memberikan dukungan pada ibu
2. Memberikan informasi mengenai gizi ibu hamil
a. Menjelaskan pada ibu mengenai makanan bergizi (sayur-sayuran, buah, makanan TKTP seperti ikan, tempe, tahu).
b. Menganjurkan ibu makan makanan bergizi (sayur-sayuran, buah, makanan TKTP seperti ikan, tempe, tahu).
c. Memberi ibu Vit B12
3. Memberikan informasi tentang senam hamil
a. Menjelaskan pada ibu tentang pentingnya senam hamil untuk mempersiapkan persalinan.
b. Menganjurkan pada ibu teknik senam hamil
c. Menganjurkan pada ibu untuk melakukan senam hamil setiap pagi hari di PBS Nanik Asmawati
d. Mengevaluasi kemampaun ibu mengulangi yang sudah diajarkan.

VII. Evaluasi
1. Ibu mengatakan tentang kondisi kehamilannya saat ini
- TTV
TD : 110/70 mmHg
RR : 20 x/mnt
Pols : 82 x/mnt
Temp : 37,20C
- Palpasi
Leopold I : TFU 3 jari bawah PX, pada fundus teraba lunak dan tidak melenting yang berarti bokong.
Leopold II : perut ibu sebelah kanan teraba lebar dan memberikan tahanan yang besar, berarti punggung kanan.
Leopold III : bagian terbawa janin teraba keras dan melenting bila digoyangkan yang berarti kepala.
- Oedema negatif
2. Ibu mengerti dan berjanji akan makan yang bergizi
3. Ibu bersedia akan melakukan kunjungan rutin setiap mingguu
4. Ibu bersedia akan melakukan senam hamil sendiri di rumah.

CATATAN PERKEMBANGAN


Tanggal 10 Januari 2005 Pukul 17.00 Wib
S : - Ibu mengatakan ingin memeriksakan kehamilannya
- Ibu mengatakan gerakan janinnya sudah semakin sering
- Ibu mengatakan rutin melakukan senam hamil setiap pagi hari
O : - TVV
TD : 110/70 mmHg
Pols : 82 x/mnt
BB : 58 kg
RR : 20 x/mnt
Temp : 37,20C
- Colostrum sudah keluar
- Palpasi :
Leopold I : TFU 3 jari bawah PX, pada fundus teraba lunak dan tidak melenting yang berarti bokong.
Leopold II : Perut ibu sebelah kanan teraba lebar dan memberikan tahanan yang besar, berarti punggung kanan.
Leopold III : Bagian terbawah janin teraba keras dan melenting bila digoyangkan yang berarti kepala.
A : - Diagnosa : G1P0A0 hamil 38 minggu, janin hidup, tunggal, letak memanjang, presentasi kepala, intra uterin.
- Dasar : - Ibu mengatakan hamil anak pertama
- HPHT : 20-04-05
- TP : 27-01-06
- DJJ Positif, frekuensi 135 x/mnt
- Pada palpasi didapat 3 jari bawah PX, bagian perut sebelah kanan ibu teraba ekstrimitas, bagian terendah janin kepala.
- Masalah : Gangguan pola eliminasi
Dasar : - Ibu mengatakan sering BAK
- Ibu BAK 8-10 x/hari
- Kebutuhan :
a. Penyuluhan tentang persiapan persalinan
Dasar : - Ibu mengatakan hamil anak ke – 1 usia kehamilan 38 minggu.
Minggu : - Ibu menanyakan tentang tanda-tanda persalinan
- Ibu menanyakan tentang persiapan persalinan
- Persiapan apa saja untuk keluarga sebelum ke BPS
b. Personal Hygiene
Dasar : - Ibu mengatakan sering BAK
- Ibu mengatakan celana dalam sering terasa basah
- Ibu mengatakan lipat paha terasa gatal
- Ibu tidak menggunakan sabun vagina
- Ibu mengatakan kemaluannya sering merasa lembab
P : 1. Beritahu ibu tentang hasil pemeriksaan
a. Jelaskan kondisi ibu saat ini
b. Deteksi adanya kelainan
c. Anjurkan untuk memeriksakan kehamilan setiap minggu
d. Libatkan keluarga dalam memberikan dukungan kepada ibu
2. Berikan informasi mengenai pola eliminasi
a. Jelaskan pada ibu bahwa sering buang air kecil saat hamil itu normal.
b. Anjurkan ibu untuk minum air putih yang banyak minimal 8 gelas/hari
c. Evaluasi apakah ibu benar melakukan apa yang dianjurkan

3. Berikan informasi tentang persiapan persalinan
a. Jelaskan pada ibu tentang persiapan persalinan ibu
b. Libatkan keluarga dalam persiapan persalinan ibu
4. Berikan informasi tentang personal hygiene
a. Jelaskan pada ibu tentang personal hygiene
b. Anjurkan ibu supaya mengganti celana dalamnya bila teasa lembab
c. Anjurkan pada ibu untuk menggunakan sabun vagina
d. Evaluasi apakah ibu benar-benar melakukan apa yang dianjurkan

ANC 2

KERANGKA ACUAN ANC

A. PENDAHULUAN
Pelayanan kebidanan dasar memerlukan pentingnya pemberdayaan ibu dan keluarga dengan bantuan Bidan untuk mengatasi masalah yang mungkin dijumpai selama masa kehamilan, persalinan dan nifas. Dalam memberikan pelayanan kebidanan dasar juga perlu diperhatikan bahwa sasaran langsung pelayanan adalah ibu dan janin serta bayi baru lahir. Pelaksanaan pelayanan KIA mempunyai tugas untuk melakukan pemeriksaan kehamilan dan konseling terhadap ibu hamil serta keluarganya agar ibu hamil dapat melalui kehamilannya dengan sehat dan selamat.

B. LATAR BELAKANG
Sebagian ibu hamil tidak pernah memeriksakan kehamilan karena beberapa alasan. Mereka perlu dikunjungi ke rumahnya sejak kehamilan muda dan terutama sejak umur kehamilannya 34-36 minggu. Oleh karena itu, banyak ibu hamil resiko tinggi yang tidak terdeteksi oleh tenaga kesehatan.

C. TUJUAN
- Mengetahui identitas pasien dan keluarga serta perilaku kehidupan sehari-hari
- Mengetahui secara dini riwayat kehamilan dan persalinan yang lalu
- Mengetahui umur kehamilan, supaya dapat mengetahui perkiraan persalinan
- Mengenali sejak dini faktor resiko dan resiko tinggi
- Memberikan konseling pada ibu serta keluarga tentang keadaan kehamilannya
- Memotivasi ibu supaya merencanakan pertolongan persalinanya dengan tenaga kesehatan

D. KEGIATAN POKOK DAN RINCIANNYA
- Anamnesis
- Pemeriksaan Fisik
- Pemberian pelayanan sesuai dengan kebutuhan
- Pencatatan hasil pelayanan Antenatal Care
- Memberikan pelayanan tindak lanjut

E. CARA PELAKSANAAN
- Kegiatan pemeriksaan bumil di gedung dilaksanakan di ruang KIA Puskesmas Kalimas
- Kegiatan di luar gedung dilaksanakan pada waktu yang ditentukan
- Kunjungan rumah oleh Bumil yang tak memeriksakan kehamiannya dilakukan oleh Bidan desa, pemegang wilayah setempat.

F. SASARAN
Bumil dari umur 0minggu – 40 minggu

G. JADWAL
- Di dalam gedung setiap hari kerja di Ruang KIA Puskesmas Kalimas
- Di luar gedung, setiap kegiatan Posyandu di kunjungan desa dan kunjungan rumah di tentukan oleh Bidan Desa pemegang wilayah.

H. EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN
Sasaran terlayani dengan baik, target persalinan oleh tenaga kesehatan, penjaringan resti bumil dan dapat tercapai, cakupan target bumil terpenuhi.

I. PENCATATAN DAN PELAPORAN
Dilaksanakan sesuai dengan prosedur pelaksanaan pada bumil.


Mengetahui
Kepala Puskesmas Kalimas



dr. Sugiyarto
NIP. 19740525 200312 1 003
Pengelola Program



R. Hidayah
NIP 19680824 199003 2 006













PUSKESMAS KALIMAS SOP PENGUMPULAN DATA PENANGGUNG JAWAB

PROSEDUR TETAP No. Kode : Disiapkan
Unit KIA KB




R. Hidayah
19680824 199003 2 006 Diperiksa
Ketua Akreditasi




dr. Sugiyarto
19740525 200312 1 003 Disahkan
Kepala Puskesmas




dr. Sugiyarto
19740525 200312 1 003
Terbitan :
No. Revisi :
Tanggal Mulai Berlaku :
Halaman :



Tujuan Terselenggaranya kegiatan pengumpulan data-data yang akurat sebagai bahan dan perencanaan.
Ruang Lingkup Prosedur ini berlaku mulai dari persiapan instrumen data yang diperlukan sampai merekap data dan menginformasikan hasil rekapitulasi data kepada kepala Puskesmas..
Definisi Pengumpulan data adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara kontinyu sebagai bahan pelaporan.
kriteria Pencapaian Semua data yang dibutuhkan tersedia
Prosedur 1. Pengelola program KIA-KB, mempersiapkan instrumen data yang diperlukan untuk pelaporan bulanan.
2. Pengelola program KIA-KB mengkoordinir kegiatan program dari pelaksana program.
3. Pengelola program KIA menentukan jadwal ketentuan pengumpulan data dari masing-masing pelaksanan program setiap tanggal 25.
4. Pengelola program KIA-KB menyimpan data-data dari seksi terkait maupun program KIA-KB, selanjutnya merekapitulasi data tersebut sebagai bahan pelaporan.
5. Pengelola program KIA-KB, menginformasikan hasil rekapitulasi data kepada kepala Puskesmas.
Referensi Kesepakatan rapat Pusksmas
Dokumen Terkait - Format laporan bulanan
- Buku rekapan
Distribusi - PKD
- Pustu
- Puskesmas

REKAMAN HISTORIS ISI PERUBAHAN

No Isi Perubahan Tanggal Mulai Berlaku





























DIAGRAM ALIR



























KERANGKA ACUAN POSTNATAL CARE (PNC)

A. PENDAHULUAN
Pelayanan kebidanan dasar memerlukan pentingnya pemberdayaan ibu dan keluarga dengan bantuan Bidan untuk mengatasi masalah yang mungkin dijumpai selama masa kehamilan, persalinan dan nifas. Dalam memberikan pelayanan kebidanan dasar juga perlu diperhatikan bahwa sasaran langsung pelayanan adalah ibu dan janin serta bayi baru lahir. Salah satu tugas pelaksana pelayanan KIA yaitu untuk melakukan pemeriksaan ibu dan bayinya selama masa nifas. Pemeriksaan pertama dilaksanakan segera setelah 6 jam setelah persalinan. Selanjutnya diperlukan 3 kali pemeriksaan nifas, yaitu pada hari ke-3, ke-14, ke-40 setelah persalinan. Dengan tujuan supaya kesehatan ibu dan bayi tetap terkontrol dan bisa mengetahui tanda bahaya yang mungkin timbul dan apa yang perlu dilakukan bila hal tertebut terjadi.
B. LATAR BELAKANG
Masa nifas, yang berlangsung selama 6 minggu setelah persalinan, merupakan masa kritis dalam kehidupan ibu maupun bayi. Sekitar 60 % kematian ibu terjadi segera setelah lahir, dan hampir 50 % dari kematian pada masa nifas terjadi 24 jam pertama setelah persalinan. Hal ini tidak berbeda pada bayi. Dua pertiga kematian bayi terjadi dalam 4 minggu pertama setelah kelahiran. Pemantauan ketat, perawatan ibu dan bayi, serta konseling oleh Bidan akan sangat membantu dalam mencegah kematian tersebut.

C. TUJUAN
 6 jam pertama setelah persalinan
 Menilai perdarahan
 Memeriksa bayi untuk pertama kali
 Mengajarkan pada ibu dan keluarga tentang kebutuhan bayi
 Memastikan bayi tetap hangat dan diberi ASI
 3 hari setelah persalinan
 Menilai infeksi dan perdarahan
 Memberitahu ibu tentang tanda bahaya dan cara perawatan dirinya.
 Menganjurkan ibu untuk minum tablet tambah darah sampai 40 hari setelah persalinan.
 Kunjungan pada minggu kedua
 Memeriksa involusi uterus
 Memeriksa keadaan bayi
 Memberi penjelasan kepada ibu cara merawat diri dan bayinya selama sisa masa nifas, termasuk KB dan pencegahan infeksi saluran reproduksi.
 Minggu keenam
 Mengenali tanda bahaya, bila ada.
 Membahas KB, menyusui bayi dengan ASI, dan perawatan bayi selanjutnya.
D. KEGIATAN POKOK DAN RINCIANNYA
- Anamnesis
- Pemeriksaan Fisik
- Pemberian pelayanan sesuai dengan kebutuhan
- Menentukan tindakan yang tepat
- Mencatat hasil pelayanan

E. CARA PELAKSANAAN
- Kegiatan pemeriksaan ibu nifas di gedung dilaksanakan di ruang KIA Puskesmas Kalimas
- Kegiatan di luar gedung dilaksanakan pada waktu yang ditentukan
- Kunjungan rumah pada ibu nifas dilakukan oleh Bidan desa, pemegang wilayah setempat.

F. SASARAN
Bagi ibu dan bayi selama masa nifas, yaitu 40 hari setelah persalinan.

G. JADWAL
- Di dalam gedung setiap hari kerja di Ruang KIA Puskesmas Kalimas
- Di luar gedung, setiap kegiatan Posyandu di kunjungan desa dan kunjungan rumah di tentukan oleh Bidan Desa pemegang wilayah.

H. EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN
Sasaran terlayani dengan baik, tanda bahaya pada masa nifas dapat segera ditangani, cakupan target ibu nifas terpenuhi.


I. PENCATATAN DAN PELAPORAN
Dilaksanakan sesuai dengan prosedur pelaksanaan pada ibu nifas.


Mengetahui
Kepala Puskesmas Kalimas



dr. Sugiyarto
NIP. 19740525 200312 1 003
Pengelola Program



R. Hidayah
NIP 19680824 199003 2 006






















KERANGKA ACUAN PERSALINAN

A. PENDAHULUAN
Pelayanan kebidanan dasar memerlukan pentingnya pemberdayaan ibu dan keluarga dengan bantuan Bidan untuk mengatasi masalah yang mungkin dijumpai selama masa kehamilan, persalinan dan nifas. Dalam memberikan pelayanan kebidanan dasar juga perlu diperhatikan bahwa sasaran langsung pelayanan adalah ibu dan janin serta bayi baru lahir. Salah satu tugas pelaksana pelayanan KIA yaitu melaksanakan Asuhan Persalinan Normal. Persalinan normal adalah terjadinya kelahiran bayi aterm dengan proses pervaginam alami dan tanpa komplikasi.. Penolong persalinan perlu memantau keadaan ibu dan janin untuk mewaspadai secara dini terjadinya komplikasi. Di samping itu, penolong persalinan juga berkewajiban untuk memberika dukungan moril dan rasa nyaman kepada ibu yang sedang bersalin.
B. LATAR BELAKANG
Menurut Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 1997, Angka Kematian Ibu di Indonesia masih tinggi yaitu 334 per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan Angka Kematian Bayi Baru Lahir sebesar 25 per 1000 kelahiran hidup. Sebagian besar penyebab kematian tersebut dapat dicegah dengan penanganan yang adekuat. Untuk dapat memberikan pelayanan kesehaan maternal dan neonatal yang berkualitas dibutuhkan tenaga kesehatan terampil yang didukung tersedianya sarana dan prasarana yang memadai.

C. TUJUAN
 Menurunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir
 Memberikan asuhan sayang ibu dan bayi
 Mengurangi intervensi pada ibu bersalin
 Memantau kemajuan persalinan
 Mendeteksi secara dini kemungkinan penyulit dalam persalinan
 Memberikan penanganan yang cepat dan tepat jika terjadi komplikasi
D. KEGIATAN POKOK DAN RINCIANNYA
 Anamnesis
 Pemeriksaan Fisik
 Pemantauan persalinan dengan menggunakan partograf
 Pemberian pelayanan sesuai dengan kebutuhan
 Menentukan tindakan yang tepat
 Pencatatan persalinan
E. CARA PELAKSANAAN
 Persalinan dilakukan di rumah ibu, oleh tenaga kesehatan terlatih (Bidan)
 Persalinan dilakukan sesuai dengan Asuhan Persalinan Normal
F. SASARAN
 Bagi ibu bersalin.
G. JADWAL
 Pada saat ibu memasuki masa persalinan (inpartu).


H. EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN
Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih, sasaran terlayani dengan baik, persalinan berlangsung aman dan tanpa terjadi komplikasi, ibu dan bayi dalam keadaan sehat, cakupan target ibu bersalin terpenuhi.
I. PENCATATAN DAN PELAPORAN
 Dilaksanakan sesuai dengan prosedur pelaksanaan pada ibu bersalin.


Mengetahui
Kepala Puskesmas Kalimas



dr. Sugiyarto
NIP. 19740525 200312 1 003
Pengelola Program



R. Hidayah
NIP 19680824 199003 2 006

DBD

PUSKESMAS
KALIMAS PEMERIKSAAN & MENGKLASIFIKASI DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) PADA BALITA PENANGGUNG JAWAB
INSTRUKSI KERJA No. Kode : Disiapkan
Unit KIA KB




R. Hidayah
19680824 199003 2 006 Diperiksa
Ketua Akreditasi




dr. Sugiyarto
19740525 200312 1 003 Disahkan
Kepala Puskesmas




dr. Sugiyarto
19740525 200312 1 003
Terbitan :
No. Revisi :
Tgl Mulai Berlaku :

Halaman :

1. KEBIJAKAN Penanganan Demam Berdarah Dengue (DBD) mengikuti langkah-langkah yang penting dalam instruksi kerja.
2. TUJUAN Sebagai pedoman petugas agar dapat melaksanakan tindakan dengan benar dan tepat.
3. REFERENSI Penilaian dan klasifikasi anak sakit umur 2 bln sampai 5 tahun, DepKes RI dan DinKes Provinsi Jawa Tengah, 2006
4. RUANG LINGKUP Anak sakit umur 2 bln sampai 5 tahun yang datang ke ruang KIA-KB Puskesmas Kalimas, BPS, PKD, Rumah ibu.
5. PENANGGUNG JAWAB Kepala Puskesmas
6. MASA BERLAKU
7. DEFINISI Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah demam yang disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dengan gejala utama demam tinggi dan perdarahan.
8. ALAT DAN BAHAN 1. Pengukur suhu
2. Senter
3. Timbangan dewasa,
4. Pengukur Lila
5. Timbangan bayi
6. Pengukur tinggi badan
7. Penekan lidah dengan wadah antiseptik
8. LANGKAH-LANGKAH 1. Ibu diberi tahu tentang tujuan dan prosedur yang akan dilakukan .
2. Mencuci tangan.
3. Mengatur posisi bayi
4. Mendekatkan alat-alat
5. Anamnesa.
 Bidan menayakan umur anak
 Menimbang berat badan
 Mengukur suhu badan
 Menanyakan anaknya sakit apa
6. Menanyakan apakah anak demam.
 Anak dikatakan demam, bila suhu badan > 37,50 C. Merupakan tanda adanya infeksi.
7. Menanyakan sudah berapa lama anak demam?
 Gejala demam berdarah jika demam kurang dari 7 hari.
8. Menanyakan apakah anak mengalami perdarahan.
 Perdarahan dapat berasal dari hidung, gusi, saluran pencernaan dll.
9. Menanyakan apakah anak pernah muntah bercampur darah atau berwarna hitam seperti kopi.
10. Menanyakan apakah berak berwarna hitam.
11. Menanyakan apakah anak pernah mengeluh nyeri ulu hati (pada anak lebih besar) atau anak gelisah (pada anak yang lebih kecil).
12. Memeriksa tanda-tanda syok
 Ujung ekstremitas teaba dingin dan
 Nadi teraba lemah atau tidak teraba
13. Mencari adanya bintik perdarahan di kulit (petekie)
 Bintik ini biasanya kecil dan dapat dijumpai pada hampir seluruh tubuh. Carilah di wajah, lengan dan buka bajunya untuk dapat melihat di daerah dada, perut dan sebagainya.
 Jika ditemukan petekie, tetapi tidak banyak dan tidak ada tanda-tanda DBD yang lain, lakukan uji torniket jika mungkin.
 Jika jumlah petekie cukup banyak, apalagi disertai gejala DBD yang lain, tidak perlu melakukan uji torniket.
 Cara melakukan uji torniket :
a) Aliran darah pada lengan atas dibendung dengan manset anak, selama 5 menit pada tekanan antara sistolik dan diastolic.
b) Lihat pada bagian depan lengan bawah, apakah timbul bintik-bintik merah tanda perdarahan.
c) Hasil uji torniket dianggap positif (+) apabila ditemukan swbanyak 10 atau lebih petekie pada daerah seluas diameter 2.8 cm (1 inchi). (Jika sebelum 5 menit sudah di dapat 10 petekie, uji torniket dihentikan)
 Cara membedakan antara petekie dan gigitan nyamuk : regangkan kulit yang ada bintik perdarahan tersebut. Jika tenda kemerahan menghilang, berarti bukan petekie.
14. Membandingkan gejala yang ditemukan dengan yang ada pada bagan dan pilih klasifikasi yang sesuai apakah tergolong Demam Berdarah Dengue (DBD), Demam : mungkin DBD atau Demam: mungkin bukan DBD.
15. Bila termasuk Demam Berdarah Dengue (DBD), tindakan pra rujukan antara lain :
 Jika ada syok segera beri cairan intravena sesuai petunjuk dalam “Pemberian cairan pra rujukan untuk Demam Berdarah Dengue”
 Jika ada tanda syok, atasi syok dengan segera
Segera beri cairan intravena. Beri cairan Ringer Laktat. Jika tidak ada : beri NaCl : 20 ml/kg/dalam 30 menit.
 Periksa kembali anak setelah 30 menit
Jika nadi teraba, beri cairan intravena dengan tetesan 10 ml/kg/BB/jam dan rujuk segera.
Jika nadi tidak teraba, beri cairan intravena dengan tetesan 20 ml/kg/BB/jam dan rujuk segera ke Rumah Sakit.
 Jika tidak ada tanda syok :
Bila anak masih bisa minum, beri minum apa saja (air putih, teh manis, sirup, jus buah, susu atau oralit) sebanyak mungkin dalam perjalanan ke Rumah Sakit.

 Catatan :
Jika tidak dapat member cairan intravena, minumkan oralit atau cairan lian, sedikit-sedikit dan sering dalam perjalanan ke Rumah Sakit.
Jangan member minuman yang berwarna merah atau coklat tua karena sulit dibedakan jika ada perdarahan lambung.
 Jika tidak ada syok, beri tambahan cairan atau oralit sebanyak mungkin dalam perjalanan ke Rumah Sakit.
 Beri dosis pertama parasetamol di klinik jika demam tinggi ( 38,50 C atau lebih)
 Rujuk SEGERA
16. Sebelum merujuk bayi,selain memberikan tindakan pra rujukan perlu dilakukan beberapa hal sbb
a. Menjelaskan pada ibu/keluarga tentang pentingnya rujukan,minta persetujuan untuk membawa balitanya ke Rumah Sakit.
b. Menghilangkan kekhawatiran ibu/keluarga & tolonglah untuk mengatasi setiap masalahnya.
c. Menyiapkan surat rujukan untuk dibawa ibu/keluarga ke Rumah Sakit dan beritahu agar memberikan kepada petugas kesehatan di RS.
d. Memberikan obat kepada ibu/keluarga dan instruksi yang diperlukan untuk merawat balitanya selama perjalanan di RS.
17. Bila termasuk Demam : mungkin DBD, tindakan yang harus dilakukan antara lain :
 Beri dosis pertama parasetamol di klinik jika demam tinggi ( 38,50 C atau lebih)
 Nasihati ibu untuk memberi anak lebih banyak minum atau oralit.
 Nasihati ibu kapan harus kembali segera
 Kunjungan ulang setelah 2 hari jika tetap demam
18. Bila termasuk Demam: mungkin bukan DBD, tindakan yang dilakukan antara lain :
 Obati penyebab lain dari demam
 Beri dosis pertama parasetamol di klinik jika demam tinggi ( 38,50 C atau lebih)
 Nasihati ibu kapan harus kembali segera
 Kunjungan ulang setelah 2 hari jika tetap demam
19. Petugas merapikan anak kembali
20. Petugas menentukan tindakan dan memberi pengobatan yang diperlukan.
21. Memberi konseling kepada ibu / keluarga .
 Nasihati ibu untuk memberi anak lebih banyak minum atau oralit.
 Nasehat kapan kembali segera
 Nasehat perawatan di rumah kepada ibu
22. Sebelum ibu pulang, cek kembali pemahaman ibu tentang penjelasan yang diberikan
23. Petugas mencuci tangan
24. HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN  Ciri-ciri DBD adalah demam akut 2-7 hari, lemah, gelisah, nyeri ulu hati, diikuti dengan gejala perdarahan dan kecenderungan syok yang fatal.
 Perdarahan biasanya dapat berupa bintik perdarahan di kulit (petekie) akibat pecahnya pembuluh darah halus pada kaki dan tangan, aksila, tubuh dan wajah ; pada permulaan timbulny demam.
25. DOKUMEN TERKAIT Bagan Tata Laksana MTBS
26. UNIT TERKAIT KIA-KB
27. FORMULIR YANG DIGUNAKAN Bagan Tata Laksana kasus Pneumonia / Bagan MTBS / Formulir MTBS.





REKAMAN HISTORIS ISI PERUBAHAN
NO ISI PERUBAHAN TANGGAL MULAI BERLAKU







































BAGAN ALIR PENILAIAN & KLASIFIKASI DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) PADA BALITA
























YA



TIDAK













PUSKESMAS
KALIMAS PEMERIKSAAN&MENGKLASIFIKASI DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) PADA BALITA PENANGGUNG JAWAB
DAFTAR TILIK No. Kode : Disiapkan
Unit KIA KB





R. Hidayah
19680824 199003 2 006 Diperiksa
Ketua Akreditasi





dr. Sugiyarto
19740525 200312 1 003 Disahkan
Kepala Puskesmas





dr. Sugiyarto
19740525 200312 1 003
Terbitan :
No. Revisi :
Tgl Mulai Berlaku :

Halaman :

Nama pemberi tindakan :……………………………..
Tanggal :……………………………..
Tempat tindakan :……………………………..

No Kegiatan Ya Tidak Tidak berlaku
Apakah petugas
1. Menjelaskan prosedur yang akan dilakukan?
2. Mencuci tangan?
3. Mengatur posisi bayi yang diperiksa?
4. Mendekatkan alat-alat?
5. Melakukan anamnesa?
6. Menanyakan anak demam?
7. Menanyakan sudah berapa lama anak demam?
8. Menanyakan anak mengalami perdarahan?
9. Menanyakan anak pernah muntah bercampur darah atau berwarna hitam seperti kopi?
10. Menayakan berak berwarna hitam?
11. Menanyakan anak pernah mengeluh nyeri ulu hati (pada anak lebih besar) atau anak gelisah (pada anak yang lebih kecil?
12. Memeriksa tanda-tanda syok?
13. Mencari bintik perdarahan di kulit?
14. Menentukan klasifikasi demam?
15. Merapikan anak kembali?
16. Menentukan tindakan dan memberi pengobatan yang diperlukan?
17. Memberikan konseling kepada ibu dan keluarga?
18. Mengecek kembali pemahaman ibu tentang penjelasan yang diberikan?
19. Mencuci tangan?

GSIBA

GSIBA
( Gerakan Sayang Ibu, Bayi dan Anak )

GSIBA adalah susatu gerakan yang dilaksanakan oleh masyarakat, bekerjasama dengan pemerintah untuk peningkatan perbaikan kualitas hidup perempuan melalui berbagai kegiatan yang mempunyai dampak terhadap upaya penurunan angka kematian ibu karena hamil, melahirkan dan nifas serta penurunan angka kematian bayi.

Gerakan Sayang Ibu dan Anak perlu dilakukan karena
1. Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas sangat menentukan keberhasilan suatu pembangunan.
2. Pembentukan kualitas SDM yang berkualitas ditentukan dari janin dalam kandungan, karena perkembangan otak terjadi selama hamil sampai dengan anak usia 5 tahun.
3. Oleh karena itu peningkatan kesehatan dan kesejahteraan ibu dan anak merupakan faktor paling strategis untuk meningkatkan mutu SDM.
4. Namun demikian bila dilihat dari Angka Kematian Ibu (AKI) karena hamil, bersalin dan nifas di Indonesia masih tinggi, bahkan tertinggi diantara negara-negara di ASEAN.
5. AKI di Indonesia sebesar:
1986 : 450 per 100.000 kelahiran hidup*
1994 : 390 per 100.000 kelahiran hidup**
1995 : 373 per 100.000 kelahiran hidup***
1997 : 334 per 100.000 kelahiran hidup**
2003 : 307 per 100.000 kelahiran hidup**
* Sumber data Susenas
** Sumber data SDKI
*** Sumber data SKRT
6. Sementara Angka Kematian Bayi adalah:
1997 : 52 per 1.000 kelahiran hidup**
2003 : 35 per 1.000 kelahiran hidup**
7. Tingginya AKI dan AKB di Indonesia akan memberikan dampak negatif pada berbagai aspek. Dampak yang ditimbulkan akibat anemia (kurang darah) pada ibu hamil adalah perdarahan pada saat melahirkan, berat bayi lahir rendah (BBLR), penurunan IQ point, bayi mudah terkena infeksi dan mudah menderita gizi buruk, sedangkan dampak sosial ekonomi akibat anemia adalah penurunan produktifitas.
8. Kematian ibu menyebabkan bayi menjadi piatu yang pada akhirnya akan menyebabkan penurunan kualitas SDM akibat kurangnya perhatian, bimbingan dan kasih sayang seorang ibu. Sedangkan kematian bayi menyebabkan ibu tidak mau lagi ikut program KB.
9. Oleh karena itu perlu suatu upaya dalam penurunan Angka Kematian Ibu dan bayi.

Tujuan Gerakan Sayang Ibu dan Anak
Bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, utamanya mempercepat penurunan angka kematian ibu, bayi dan anak.

Faktor Yang Mempengaruhi Tingginya Angka Kematian Ibu, Bayi dan Anak
1. Analisa faktor yang berpengaruh terhadap tingginya AKI, AKB dan AKABA di Indonesia dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu pendidikan dan pengetahuan, sosial budaya, sosial ekonomi, geografi dan lingkungan, aksesibilitas ibu pada fasilitas kesehatan serta kebijakan makro dalam kualitas pelayanan kesehatan.
2. kematian ibu dipengaruhi oleh penyebab langsung dan tidak langsung.
3. penyebab langsung kematian ibu adalah:
- Perdarahan
- Infeksi
- Keracunan kehamilan (Eklamsia)
- Partus lama
- Aborsi






4. Untuk memahami penyebab dasar kematian ibu, dapat digunakan model 3 terlambat ( UNICEF/UNFPA/WHO ), yaitu:
• Terlambat satu atau terlambat dalam mengenali tanda bahaya dan memutuskan untuk mencari pertolongan ke fasilitas kesehatan. Dapat disimpulkan bahwa faktor yang berpengaruh antara lain kurangnya kekuatan perempuan ibu hamil ) untuk mengambil keputusan, konsep penyakit dan seriusitas, faktor budaya dan tidak cukupnya informasi merupakan faktor-faktor yang turut menyumbang terjadinya terlambat satu ini.
• Terlambat dua atau terlambat dalam mencapai fasilitas pelayanan kesehatan yang memadai, dapat disimpulkan bahwa distribusi fasilitas kesehatan, waktu untuk mencapai fasilitas kesehatan dari rumah dan langkanya transportasi merupakan faktor utama yang mempengaruhi keterlambatan ibu hamil/nifas dalam mencapai fasilitas kesehatan.
• Terlambat tiga atau terlambat dalam menerima pelayanan kesehatan yang cukup memadai pada setiap tingkatan, dengan kata lain dapat berarti bahwa pelayanan kesehatan mempunyai kontribusi yang bermakna terhadap kejadian kematian, termasuk dalam berfungsinya sistem rujukan, kurangnya alat dan obat, tidak cukupnya tenaga kesehatan yang terlatih dan keberadaan tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan.

Kurangnya kekuatan perempuan untuk mengambil keputusan menunjukkan adanya kesenjangan gender dalam pengambilan keputusan di tingkat keluarga. Demikian pula dengan kurangnya pengetahuan perempuan mengenai kehamilan dan kesakitan menunjukkan masih rendahnya kualitas hidup perempuan.

5. Disamping faktor-faktor diatas, faktor lain yang mempunyai pengaruh terhadap tingginya angka kematian ibu adalah 4 terlalu, yaitu:
o Terlalu muda untuk menikah
o Terlalu sering hamil
o Terlalu banyak melahirkan
o Terlalu tua hamil
6. Sementara itu penyebab langsung kematian bayi adalah:
o Asphyxia (sesak nafas)
o Infeksi
o Trauma lahir
o Hipotermia (kedinginan)
o Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR)


Yang Harus Dipersiapkan Untuk GSIBA di Tingkat Desa / Kelurahan
1. Pembentukan Pokja (Kelompok Kerja) GSIBA Desa/Kelurahan.
2. Pendataan dan pembuatan peta ibu hamil
3. Pengorganisasian Tabulin
4. Pengorganisasian Ambulance Desa
5. Pengorganisasian donor darah
6. Pengorganisasian kemitraan dukun bayi dengan bidan
7. Pengorganisasian penghubung/liason
8. Pengorganisasiantata cara rujukan
9. Pengorganisasian Suami Siaga
10. Pembentukan Pondok Sayang Ibu
11. Pengorganisasian Amanat persalinan atau Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K).
12. Audit Maternal Perinatal (AMP) dan Otopsi Verbal Kematian
13. Keluarga Berencana
14. Inisiasi Menyusui Dini (IMD)
15. Manajemen Terpadu Bayi Muda Sakit (MTBM)
16. Pemantauan dan Rujukan KIA
17. Kelompok Pelestari ASI (KP-ASI)
18. Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) Balita.
19. Penyebarluasan informasi ke masyarakat dalam mengurangi kematian bayi
20. Penyuluhan pada tokoh mesyarakat, tokoh agama, keluarga ibu hamil, ibu bersalin dan ibu nifas
21. Pencatatan dan Pelaporan



1. Pembentukan Pokja (Kelompok Kerja) GSIBA Desa/Kelurahan
Pembentukan Pokja GSIBA desa/kelurahan dapat diawali dengan mengadakan pertemuan yang dihadiri oleh berbagai unsur masyarakat seperti Kepala Desa/Lurah, Sekertaris Desa/Kelurahan, LKMD,TP PKK, bidan di desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, LSM, swasta, dll.
Pada pertemuan tersebut disepakati bahwa Pokja GSIBA Desa/Kelurahan diketuai oleh Ketua I LPMD diterbitkan Surat Keputusan (SK) Kepala Desa/Lurah.
Susunan pengurus Pokja GSIBA Desa/Kelurahan disusun berdasarkan kesepakatan bersama. Dibawah ini adalah contoh susunan pengurus Pokja GSIBA Desa/ Kelurahan yang terdiri dari:
Penanggung jawab : Kepala Desa
Ketua Pelaksana : Ketua I LPMD
Sekretaris : Sekretaris Desa
Bendahara : TP PKK
Anggota : Seksi-seksi di LKMD, LSM, swasta, Aliansi Pita Putih, dll.
Susunan kepengurusan Pokja GSIBA desa/kelurahan dapat dibentuk sesuai dengan kondisi dengan kondisi masing-masing daerah.

Tugas Pokja GSIBA desa/kelurahan
1. Mengumpulkan data ibu hamil, ibu bersalin dan ibu nifas yang berasal dari kelompok TP PKK, dasawisma, kader, atau lainnya dan membuat peta bumil
2. Menyusun rencana kerja dalam mengorganisir Tabulin, Ambulance desa, donor darah, kemitraan dukun bayi dengan bidan, Penghubung/liason, Suami Siaga
3. Memberi tanda (stiker) pada rumah ibu hamil untuk kemudian dipantau dan informasikan ke bidan desa/bidan puskesmas
4. Membantu merujuk ibu hamil ke fasilitas kesehatan bila diperlukan
5. Melakukan penyuluhan pada tokoh masyarakat, tokoh agama, keluarga ibu hamil, ibu bersalin dan ibu nifas
6. Menyebarluaskan informasi ke masyarakat dalam mengurangi kematian bayi
7. Mencatat dan melaporkan kegiatan GSI ketingkat kecamatan
8. Membangun/membentuk Pondok Sayang Ibu (PSI) apabila diperlukan
2. Pendataan dan pembuatan peta ibu hamil
Tujuan:
Memantau ibu hamil, baik tempat tinggalnya maupun kapan melahirkan

Langkah-langkah
a. Hal pertama yang harus dilakukan adalah menemukan ibu hamil sedini mungkin. Untuk itu maka pendataan ibu hamil secara rutin harus dilakukan
b. Pendataan ibu hamil dapat dilakukan setiap 3 bulan sekali dan dilaksanakan oleh kelompok PKK, dasa wisma, kader, dukun bayi atau bidan
c. Data ibu hamil kemudian ditabulasi lengkap dengan nama, haid terakhir, tafsiran persalinan dan rencana persalinan yang berisi tempat ingin bersalin apakah di Puskesmas, Rumah Sakit Polindes, di rumah sendiri dan rencana penolong persalinan apakah oleh bidan (nama bidan) atau oleh dukun (nama dukun) yang didampingi oleh bidan.
d. Ibu hamil yang telah didata kemudian dibuatkan peta per desa atau per dusun, peta menunjukkan antara lain:
- Lokasi rumah ibu hamil
- Lokasi rumah bidan di desa dan rumah dukun
- Lokasi rumah pemilik pondok Sayang Ibu
- Jarak dari desa/dusun ke rumah sakit atau puskesmas serta perkiraan waktu tempuh ke rumah sakit apabila bumil perlu dirujuk
e. Pembuatan peta bumil dapat dilakukan oleh bidan desa/bidan puskesmas bersama dengan anggota Pokja GSIBA Desa/Kelurahan yang lain
f. Peta bumil dapat ditempel di kantor desa/kelurahan atau rumah bidan desa atau PKD atau rumah dukun bayi untuk memudahkan pemantauan.

3. Pengorganisasian TABULIN
Tujuan:
Membantu ibu bersalin yang tidak mampu untuk membiayai persalinandi fasilitas kesehatan seperti bidan/puskesmas/rumah sakit

Langkah:
a. Satgas GSIBA Desa/Kelurahan memfasilitasi warganya dalam penggalangan tabungan untuk ibu bersalin, hingga tersedia danauntuk biaya persalinan oleh tenaga kesehatan
b. Tabungan ibu bersalin dapat disediakan oleh ibu hamil itu sendiri atau oleh masyarakat
c. Mekanisme pengorganisasian dana dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah

4. Pengorganisasian Ambulance Desa
Tujuan:
Memfasilitasi ibu hamil yang perlu dibawa/dirujuk ke pelayanan kesehatan seperti bidan / puskesmas / RS.
Mekanisme pengorganisasian ambulance desa disasuaikan dengan kondisi / kesepakatan masing-masing daerah







Ambulance desa tidak harus berupa mobil ambulance tetapi dapat berupa alat transportasi lain yang dapat membawa ibu hamil ke tempat pelayanan kesehatan seperti becak, mobil roda 4 milik warga yang dipinjamkan.

5. Pengorganisasian Donor Darah
Tujuan:
Membantu bumil yang memerlukan darah pada saat persalinan.
a. Mekanisme pengorganisasian donor darah bagi bumil yang memerlukan disesuaikan / tergantung masing-masing daerah
b. Pokja GSIBA Desa/Kelurahan menawarkan kepada warganya yang bersedia menjadi pendonor darah untuk bumil
c. Pemetaan golongan darah untuk bumil
d. Pemetaan golongan darah bagi pendonor darah
e. Diberitahukan kepada pendonor darah bahwa sewaktu-waktu diperlukan, mereka bersedia
f. Apabila ada bumil yang akan bersalin, para pendonor darah ikut serta ke tempat pelayanan kesehatan
g. Dikuatkan dengan SK Kepala Desa / Kelurahan


6. Pengorganisasian Kemitraan Dukun Bayi dan Bidan
Tujuan:
Memfasilitasi ibu hamil agar persalinannya ditolong oleh tenaga kesehatan.
Mekanisme pengorganisasian kemitraan dukun bayi dengan bidan disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah.
Bupati Pemalang melalui Surat Edaran nomor 441.7/3080 tanggal 10 Juni 2003 menyatakan bahwa Kabupaten Pemalang sebagai Kabupaten dengan Persalinan Aman.

Persalinan aman akan terlaksana aman bila:
a. Setiap persalinan dilayani oleh Tenaga Kesehatan yang terlatih (Dokter dan Bidan terlatih).
b. Setiap komplikasi memperoleh pertolongan di Puskesmas PONED dan RS PONEK.
c. Setiap persalinan harus diinginkan

Perlu diketahui bahwa penurunan AKI dan AKB akan lebih cepat penurunannya apabila pertolongan persalinan oleh Bidan / Dokter dan Dukun Bayi sebagai Mitra Kerja bertugas merawat Ibu dan Bayi setelah persalinan.

7. Pengorganisasian Penghubung / liason
Tujuan:
Sebagai penghubung bila ada bumil yang akan melahirkan atau merujuk ke fasilitas kesehatan.
Pengembangan mekanisme penghubung antara pihak-pihak terkait seperti bidan, dukun, kades, donor darah, transportasi bila ada persalinan atau rujukan diatur oleh masing-masing daerah. Penghubung / liason adalah seseorang yang ditunjuk oleh satgas GSIBA bila ada persalinan atau rujukan. Penghubung dapat tukang ojek atau yang lainnya.

8. Pengembangan Tata Cara Rujukan
Masalah mendasar yang dihadapi oleh ibu bersalin di tingkat keluarga adalah ibu tidak punya kekuatan untuk memutuskan apakah dirinya perlu dirujuk ke fasilitas kesehatan atau tidak, dan masalah lainnya adalah tingkat ekonomi yang rendah dari suatu keluarga sehingga tidak mampu untuk merujuk/membawa ibu ke fasilitas kesehatan.
Pada saat rujukan harus siap BAKSOKUDA (Bidan, Alat, Keluarga, Surat, Obat, Kendaraan, Uang, Darah).
Oleh karena itu, peran Kepala Desa/Lurah sangat penting dalam hal ini, untuk membujuk keluarga ibu hamil agar dirujuk ke fasilitas kesehatan.

9. Pengorganisasian SUAMI SIAGA
Tujuan:
Meningkatkan kepedulian laki-laki terutama suami terhadap ibu hamil, ibu bersalin dan ibu nifas dalam:
- Meningkatkan kesadaran laki-laki tentang pentingnya keterlibatan mereka dalam kehamilan istrinya.
- Meningkatkan pengetahuan kaum laki-laki tentang tanda-tanda komplikasi sebelum, selama, dan setelah persalinan.
- Meningkatkan jumlah pasangan yang cenderung menggunakan bidan pada saat persalinan.
- Memotivasi toma dan masyarakat untuk mengembangkan donor darah dan transportasi pada situasi darurat.

10. Pengembangan Pondok Sayang Ibu (PSI)
Tujuan:
Membantu bumil yang akan melahirkan yang tempat tinggalnya jauh dari pelayanan kesehatan untuk diberikan tempat singgah sebelum ke fasilitas kesehatan.
• PSI tidak harus berupa bangunan baru atau khusus.
• PSI dapat memanfaatkan ruang / kamar di kantor desa / kelurahan / instansi lain atau rumah tinggal masyarakat yang letaknya dekat dengan fasilitas pelayanan kesehatan.

11. Pengorganisasian Amanat Persalinan Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K)
Merupakan terobosan percepatan penurunan angka kematian ibu dan salah satu kegiatan Desa Siaga. Melalui P4K dengan stiker yang ditempel di rumah ibu hamil, maka setiap ibu hamil akan tercatat, terdata dan terpantau secara tepat.
Tujuan:
a. Terdatanya sasaran ibu hamil dan terpasangnya stiker P4K di rumah ibu hamil agar diketahui:
- Lokasi tempat tinggal ibu hamil
- Identitas ibu hamil
- Taksiran persalinan
- Penolong persalinan, pendamping persalinan dan fasilitas tempat persalinan
- Calon donor darah, transportasi yang akan digunakan serta pembiayaan
b. Adanya Perencanaan Persalinan termasuk pemakaian metode KB pasca melahirkan yang sesuai dan disepakati ibu hamil, suami, keluarga dan bidan.
c. Terlaksananya pengambilan keputusan yang cepat dan tepat bila terjadi komplikasi selama kehamilan, persalinan dan nifas.
d. Adanya dukungan dari tokoh masyarakat, kader dan dukun




12. Audit Maternal Perinatal (AMP) dan Otopsi Verbal Kematian
Adalah pembahasan dan pelacakan kasus kematian ibu, bayi dan anak di masyarakat.
Setiap terjadi kematian ibu (hamil, bersalin, nifas), bayi dan anak wajib dilaporkan kepada petugas kesehatan agar segera dapat dilakukan pelacakan kasus oleh bidan dan dilaporkan ke Puskesmas serta Dinas Kesehatan Kabupaten Pemalang. Kasus kematian ini kemudian dibahas di masyarakat desa dalam suatu pertemuan untuk mencari penyebab kejadian kasus dan mencari solusi agar tidak terjadi kasus yang sama.

13. Keluarga Berencana
Keluarga Berencana sebagai upaya Pencegahan dan Pelayanan Kehamilan tidak diinginkan (KTD) dan Komplikasi.
Setiap pasangan yang sudah cukup anak perlu kontrasepsi mantap atau kontrasepsi efektif jangka panjang.

14. Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
Inisiasi Menyusui Dini (IMD) yaitu pemberian ASI dalam satu jam pertama kelahirannya merupakan langkah awal keberhasilan ASI eksklusif yaitu pemberian ASI saja selama enam bulan bagi bayi yang merupakan hal sangat penting dalam pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) sejak dini. Ketika dilahirkan bayi memiliki naluri untuk mencari sumber kehidupannya. Yang dibutuhkan hanyalah sentuhan kulit antara bayi dan ibunya dalam satu jam pertama kehidupannya.
Hasil penelitian terkini menunjukkan bahwa inisiasi menyusu dini dalam satu jam kelahirannya dapat meningkatkan keselamatan jiwa bayi dan mendorong keberhasilan pemberian ASI selanjutnya
Begitu lahir bayi dilap hingga bersih dan tanpa dibedong langsung diletakkan di atas dada ibunya, biarkan bayi tengkurap sehingga terjadi sentuhan antara kulit dada ibu dan kulit dada bayi dan reflek merangkak terjadi 20 – 50 mnt kemudian. Sentuhan kulit ibu dan bayi akan menjaga suhu tubuh bayi dan menghangatinya saat berusaha mencari putting susu ibu.
Dia akan segera mengeruk kolostrum yang sangat berharga. Kolostrum atau ASI yang pertama kali keluar akan merupakan imunisasi terutama dan pertama bagi bayi dan mengandung zat-zat kekebalan tubuh yang tidak dapat tergantikan Pemberian ASI juga dapat membentuk perkembangan intelegensia, rohani dan perkembangan emosional karena selama disusui dalam dekapan ibu, bayi bersentuhan langsung dengan ibu, sehingga mendapatkan kehangatan, kasih sayang dan rasa aman.
Bupati Pemalang melalui Surat nomor : 441.8/661/2008 mengintruksikan bahwa: “Inisiasi Menyusu Dini (IMD) pada bayi baru lahir harus dilaksanakan di Kabupaten Pemalang untuk keberhasilan ASI Eksklusif”
Diminta kepada seluruh jajaran pemerintah daerah, jajaran kesehatan dan non kesehatan, Camat, Kepala Kelurahan, Kepala Desa, Tim Penggerak PKK, Tim Assistensi GSIBA, Satgas GSIBA, Pokja GSIBA, organisasi kemasyarakatan, organisasi keagamaan, organisasi profesi, organisasi perempuan, kader kesehatan, konselor ASI, motivator ASI dan masyarakat luas untuk mendukung, mensosilisasikan dan melaksanakan ketentuan:
a. Periksakan ibu hamil minimal 4 kali selama kehamilan dan dilakukan perawatan payudara.
b. Berikan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) yaitu berikan kesempatan bayi mencari puting susu ibunya sendiri dan mendapatkan Air Susu Ibu (ASI) dalam satu jam pertama kelahirannya.
c. Berikan hanya Air Susu Ibu (ASI) saja kepada bayi selama 6 bulan
d. Bentuklah Kelompok Pelestari ASI (KP-ASI) yang siap menerima rujukan ibu dan bayi setelah bersalin.
e. Bidan wajib memberikan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) pada bayi baru lahir sedini mungkin dan tidak akan lagi menyediakan atau memberikan susu formula kecuali pada sebagian kecil yang benar-benar tidak bisa menyusu
f. Lakukan kegiatan pemantauan dan evaluasi di seluruh Kabupaten Pemalang.

15. Manajemen Terpadu Bayi Muda Sakit (MTBM)
Pelayanan Manajemen Terpadu Bayi Muda Sakit dilaksanakan oleh bidan desa dalam memberikan pelayanan kesehatan bayi pada saat kunjungan neonatal.

16. Pemantauan dan Rujukan KIA
Pemantauan dan rujukan Kesehatan Ibu dan Anak dilakukan oleh kader dasa wisma.
Kader Dasa Wisma adalah Kader kesehatan di setiap Dasa wisma dibekali dengan paket pegangan kader GSIBA (Buku Pegangan kader kesehatan ibu, Buku Pegangan Kader kesehatan anak, kartu rujukan)yang memantau kesehatan ibu dan anak di wilayah dasa wisma serta aktif memberikan penyuluhan, konsultasi ibu dan anak dan memberikan rujukan ke PKD atau puskesmas jika diperlukan.

17. Kelompok Pelestari ASI (KP-ASI)
Suatu kelompok di masyarakat yang beranggotakan tokoh masyarakat, perangkat desa dan masyarakat yang peduli terhadap pemberian ASI eksklusif Bertugas sebagai motivator ASI yang siap memberikan motivasi kepada ibu hamil untuk mendapatkan Inisiasi Menyusu Dini dan Ibu menyusui untuk memberikan ASI eksklusif.

18. Stimulasi Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) Balita
Kegiatan pemantauan tumbuh kembang balita dan intervensi dini jika penyimpangan pertumbuhan.
SDIDTK dapat dilakukan di posyandu atau BKB, jika ditemukan kelainan tumbuh kembang balita, segera dirujuk ke Puskesmas terdekat.

19. Menyebarluaskan Informasi ke Masyarakat dalam Mengurangi Kematian Bayi
Tujuan:
- Menginformasikan ke masyarakat dalam menanggulangi kematian bayi yang disebabkan karena kedinginan.
Adanya beberapa penyebab langsung kematian bayi, tetapi hanya kematian karena KEDINGINAN yang dapat ditolong oleh ibu, yaitu dengan menggunakan “metode kanguru”. Sebelum bayi mendapat pertolonganoleh tenaga kesehatan, ibu dapat memberikan pertolongan pertama yaitu dengan menempelkan bayi ke dada ibunya (kulit bayi bersentuhan dengan kulit ibu)
- Sedangkan penyebab kematian bayi yang lain seperti sesak nafas, infeksi, trauma lahir dan Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) HARUS mendapat pertolongan tenaga kesehatan atau dirujuk ke fasilitas kesehatan seperti puskesmas atau rumah sakit.
- Di samping itu bayi masih harus diberikan ASI eksklusif (hanya ASI saja sampai bayi berumur 6 bulan).

20. Penyuluhan pada TOMA, TOGA, Keluarga BUMIL
Tujuan:
Meningkatkan kesadaran tokoh masyarakat, tokoh agama dan keluarga bumil terhadap masalah kehamilan dan persalinan.
- Penyuluhan dapat dilakukan pada pertemuan tingkat desa baik pertemuan resmi maupun tidak resmi.
- Memasukkan agenda GSIBA dalam setiap pertemuan.

21. Pencatatan dan Pelaporan
Tujuan:
Mengetahui pelaksanaan kegiatan GSIBA tingkat Desa/Kelurahan. Pokja GSIBA desa mencatat data-data yang bersal dari bidan, kader TP PKK, masyarakat dalam hal: pendataan bumil / bulin / bufas, keberadaan tabulin, ambulance desa, donor darah, jumlah kematian ibu karena hamil, bersalin atau nifas, jumlah kematian bayi dan balita.
- Formulir pencatatan dan pelaporan GSIBA sudah tersedia hanya 1 lembar .
- Setiap bulan Pokja GSIBA desa diharapkan melaporkan ke Satgas GSIBA Kecamatan
- Melaporkan kejadian kematian ibu ke Satgas GSIBA Kecamatan
Mekanisme Pencatatan Dan Pelaporan Data GSIBA
Di tingkat Kelurahan/Desa pemantauan dan pengumpulan data ibu hamil, bersalin, ibu nifas dan ibu menyusui dilakukan di lapangan oleh kader GSIBA, bidan desa, PPLKB,dukun bayi di bawah koordinasi Pokja GSIBA tingkat Kelurahan/Desa.

anc

PEMERIKSAAN KEHAMILAN (ANTENATAL CARE)
A. PENGERTIAN
Pemeriksaan kehamilan adalah suatu pemeriksaan yang dilakukan pada ibu hamil untuk mengetahui keadaan ibu dan janin yang dilakukan secara teratur.
B. TUJUAN
1. Mengetahui identitas pasien dan keluarga serta perilaku kehidupan sehari-hari.
2. Mengetahui umur kehamilan, supaya dapat mengetahui perkiraan persalinan.
3. Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi.
4. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental, sosial ibu dan bayi.
5. Mengenali secara dini ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan pembedahan.
6. Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat baik ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin.
7. Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI eksklusif.
8. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal.
9. Memberikan konseling pada ibu serta keluarga tentang keadaan kehamilannya
10. Memotivasi ibu supaya merencanakan pertolongan persalinanya dengan tenaga kesehatan
C. WAKTU PEMERIKSAAN
Setiap wanita hamil menghadapi resiko komplikasi yang bisa mengancam jiwanya. Oleh karena itu, setiap wanita hamil memerlukan sedikitnya 4 kali kunjungan selama hamil :
a. Satu kali kunjungan selama trimester pertama (sebelum 14 minggu)
Hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain :
 Membangun hubungan saling percaya antara Bidan dan Ibu hamil.
 Mendeteksi masalah dan menanganinya.
 Melakukan tindakan pencegahan seperti : Tetanus Neonatorum, Anemia kekurangan zat besi, penggunaan praktek tradisional yang merugikan dll.
 Mendorong perilaku hidup sehat seperti : gizi ibu hamil, latihan/olahraga, kebersihan, istirahat dll.
b. Satu kali pemeriksaan selama trimester kedua (antara minggu 14-28)
Hal perlu diwaspadai selama trimester kedua adalah mengenal Pre-eklampsi. (Pantau tekanan darah, evaluasi oedema dan protein urine).
c. Dua kali kunjungan selama trimester ketiga (antara minggu 28-36 dan sesudah minggu ke 36).
 Antara minggu 28-36 : penting untuk mengetahui apakah ada kehamilan ganda atau tidak.
 Setelah 36 minggu : penting untuk mendeteksi letak bayi yang tidak normal atau kondisi lain yang memerlukan kelahiran di RS.

D. ANJURAN UNTUK IBU HAMIL
1) Makanan ibu hamil
Kebutuhan akan gizi selama kehamilan meningkat. Hal ini diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin di dalam kandungan. Oleh karena itu, ibu hamil harus mendapat cukup asupan gizi dalam makanannya. Bahan makanan tidak perlu mahal, akan tetapi cukup mengandung protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral.
2) Kebersihan dan pakaian
Kebersihan harus dijaga pada masa hamil, terutama kebersihan badan karena pada saat hamil banyak mengeluarkan keringat, terutama di daerah lipatan kulit. Mandi 2-3 kali sehari membantu kebersihan badan dan mengurangi infeksi.
Baju hendaknya yang longgar, mudah dipakai dan menyerap keringat. Sepatu atau alas kaki lain dengan tumit yang tinggi sebaiknya jangan dipakai, oleh karena tempat titik wanita hamil berubah, sehingga mudah tergelincir atau jatuh.
3) Perawatan payudara
Perawatan payudara penting dilakukan untuk memperlancar keluarnya ASI. Diantaranya dengan cara membersihkan puting susu dan menarik keluar sebagai persiapan untuk memberikan ASI.
4) Perawatan gigi geligi
Pada trimester pertama, wanita hamil mengalami enek dan muntah. Keadaan ini menyebabkan perawatan gigi tidak diperhatikan dengan baik sehingga timbul masalah pada gigi. Oleh karena itu, tiap wanita hamil harus memeriksakan giginya secara teratur sewaktu hamil.
5) Buang air besar atau kecil
Perubahan hormonal mempengaruhi aktifitas usus halus dan usus besar, sehingga buang air besar mengalami sembelit. Untuk mengatasinya, dianjurkan untuk meningkatkan gerak/aktifitas dan banyak makan makanan yang berserat.
Masalah buang air kecil tidak ada kelainan, bahkan cukup lancar. Dengan kehamilan terjadi perubahan hormonal, sehingga daerah kelamin menjadi lebih basah yang menyebabkan tumbuhnya jamur. Sehingga wanita hamil sering mengeluh gatal dan keputihan. Oleh karena itu wanita hamil harus menjaga kebersihan sekitar alat kelaminnya.
6) Masalah hubungan seksual
Hubungan seksual sebaiknya ditunda sampai umur kehamilan 4 bulan untuk mencegah terjadinya keguguran.
7) Imunisasi
Untuk melindungi janin yang akan dilahirkan terhadap penyakit Tetanus Neonatorum, dewasa ini dianjurka untuk diberikan vaksin Tetanus Toxoid pada ibu hamil.
8) Pemberian obat
Ibu hamil tidak boleh mengkonsumsi sembarang obat karena akan berpengaruh pada pertumbuhan janin di dalam kandungan. Oleh karena itu, ibu hamil harus selalu mengkonsultasikan kondisi kehamilannya kepada Bidan.
9) Bagi wanita pekerja
Wanita hamil boleh bekerja, tetapi jangan terlalu berat. Lakukanlah istirahat sebanyak mungkin.

manfaat asi

KEUNGGULAN ASI & ASI EKSKLUSIF SERTA MANFAAT MENYUSUI
I. PENGERTIAN
Air susu ibu (ASI) suatu cairan lemak dalam larutan protein, karbohidrat dan garam-garam mineral yang dihasilkan oleh kedua belah kelenjar payudara ibu, sebagai makanan utama bagi bayi. Sedangkan ASI eksklusif atau lebih tepat pemberian ASI secara eksklusif adalah bayi hanya diberi ASI saja, tanpa tambahan cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih, dan tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur nasi, dan tim. Para ahli menemukan bahwa manfaat ASI akan sangat meningkat bila bayi hanya diberi ASI saja selama 6 bulan pertama kehidupannya
II. STADIUM ASI
a. ASI stadium I atau kolostrum
Kolostrum adalah cairan emas, cairan pelindung yang kaya zat anti-infeksi dan berprotein tinggi. “Cairan emas “ yang encer dan seringkali berwarna kuning atau dapat pula jernih ini lebih menyerupai darah daripada susu, sebab mengandung sel hidup yang menyerupai “ sel darah putih “ yang dapat membunuh kuman penyakit.
Kolostrum merupakan pencahar yang ideal untuk membersihkan zat yang tidak terpakai dari usus bayi yang baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan makanan bayi bagi makanan yang akan datang.
Kolostrum lebih banyak mengandung protein, zat anti-infeksi 10-17 kali lebih banyak. Kadar karbohidrat dan lemak rendah dibandingkan dengan ASI yang matang. Total energi lebih rendah jika dibandingkan susu matang. Volume kolostrum antara 150-300 ml/24 jam. Kolostrum harus diberikan pada bayi.
b. ASI stadium II atau ASI Transisi/Peralihan
ASI transisi/peralihan adalah ASI yang keluar setelah kolostrum sampai sebelum menjadi ASI yang matang. Kadar protein makin merendah, sedangkan karbohidrat dan lemak makin meninggi. Volume akan makin meningkat. Dikeluarkan pada hari ke-4 sampai hari ke-10.
c. ASI stadium III atau ASI Matang ( Mature )
Merupakan ASI yang dikeluarkan pada sekitar hari ke-10 dan seterusnya, komposisi relative konstan. Pada ibu yang sehat dengan produksi ASI cukup, ASI merupakan makanan satu-satunya yang paling baik dan cukup untuk bayi sampai umur 6 bulan.
III. MANFAAT
1) Bagi bayi
a) ASI mempunyai komponen yang sesuai dan tepat untuk bayi seperti lemak, karbohidrat, protein, garam dan mineral serta vitamin.
b) ASI mengandung zat-zat antibody untuk mencegah infeksi
c) ASI mengandung protein yang spesifik untuk melindungi bayi dari alergi.
d) Secara alamiah, ASI memberikan kebutuhan yang sesuai dengan usia kelahiran bayi.
e) ASI juga bebas kuman karena diberikan langsung dari payudara sehingga kebersihannya terjamin.
f) Suhu ASI sesuai dengan kebutuhan bayi, tidak panas atau dingin.
g) ASI lebih mudah dicerna dan diserap oleh usus bayi.
h) ASI mengandung banyak seknium yang melindungi gigi dari kerusakan.
i) Menyusui akan melatih daya isap dan membentuk otot pipi yang baik.
j) ASI memberikan keuntungan psikologis.
2) Bagi ibu
a) Membantu mempercepat pengembalian rahim ke bentuk semula dan mengurangi perdarahan setelah melahirkan.
b) Menyusui secara teratur akan menurunkan berat badan secara bertahap karena pengeluaran energi untuk ASI dan proses pembentukannya akan mempercepat pembakaran lemak.
c) Sebagai kontrasepsi sampai 4 bulan setelah kelahiran bayi karena isapan bayi merangsang hormon prolaktin yang menghambat ovulasi (pelepasan sel telur) sehingga menunda kesuburan.
d) Pemberian ASI yang cukup maka dapat memperkecil kejadian keganasan kanker atau karsinoma pada payudara dan ovarium (indung telur).
e) Memberikan rasa puas, bangga dan bahagia pada ibu yang berhasil menyusui bayinya.
3) Bagi keluarga
a) Praktis dan mudah karena dalam keadaan segar dan suhu yang sesuai sehingga bisa langsung diberikan kapan saja.
b) Ekonomis, mengurangi biaya pengeluaran karena ASI tidak perlu dibeli dan mengurangi biaya perawatan sakit karena bayi yang minum ASI tidak mudah terkena infeksi.


IV. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGGUNAAN ASI
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi penggunaan ASI antara lain :
a. Perubahan sosial budaya
 Ibu-ibu bekerja atau kesibukan sosial lainnya.
 Meniru teman, tetangga atau orang terkemuka yang memberikan susu botol.
 Merasa ketinggalan zaman jika menyusui bayinya.
b. Faktor psikologis
 Takut kehilangan daya tarik sebagai seorang wanita.
 Tekanan batin.
c. Faktor fisik ibu
 Keadaan payudara ibu mempunyai peran yang menentukan untuk keberhasilan menyusui , kelainan puting susu lecet, puting tenggelam, bengkak, mendatar atau puting terlalu besar dapat mengganggu proses menyusui
 Ibu sakit, misalnya : sakit jantung, hepatitis, TBC, kanker dll.
d. Faktor Keluarga
 Suami dapat berperan dalam menyukseskan ASI eksklusif dengan tak hanya menjadi pengamat pasif. Akan tetapi, ia juga dengan aktif memberikan dukungan moril dan bantuan psikis seperti ikut menyendawakan bayi setelah diberi ASI, mengganti popok, menggendong, menenangkan bayi yang menangis, membawa bayi untuk berjemur dan berjalan-jalan, juga membantu pekerjaan rumah lainnya
 Keluarga besar dapat memberikan dukungannya dengan tidak menyarankan untuk segera memberikan makanan tambahan bagi bayi, termasuk pemberian buah-buahan seperti pisang
e. Meningkatnya promosi susu botol sebagai pengganti ASI
V. CARA PEMBERIAN ASI
a. Persiapan menyusui
Sebagai persiapan menyongsong kelahiran sang bayi, perawatan payudara yang dimulai dari kehamilan bulan ke 7-8 memegang peranan penting dalam menentukan berhasilnnya menyusui bayi. Payudara yang terawat akan memproduksi ASI cukup untuk memenuhi kebutuhan bayi. Begitu pula dengan perawatan payudara yang baik, ibu tidak perlu khawatir bentuk payudaranya akan cepat berubah sehingga kurang menarik. Juga dengan perawatan payudara yang baik, puting tidak akan lecet sewaktu diisap bayi.
b. Cara menyusui
Yang penting dalam menyusui ini adalah ibu merasa senang dan enak. Bayi dapat disusukan sambil duduk atau sambil tidur. Bayi dapat disusukan pada kedua buah payudara secara bergantian, tiap payudara sekitar 10-15 menit.
Cara menyusui yang benar adalah :
 Sebelum menyusui, ASI dikeluarkan sedikit kemudian dioleskan pada puting dan di sekitar areola (kalang payudara) untuk desinfektan dan menjaga kelembapan puting susu.
 Bayi diletakkan menghadap perut ibu / payudara.
 Bila duduk, kaki ibu tidak menggantung dan punggung bersandar pada sandaran kursi.
 Bayi dipegang pada belakang bahunya dengan satu lengan, kepala bayi terletak pada lengkung siiku ibu (kepala tidak menengadah dan bokong bayi ditahan dengan telapak tangan).
 Satu tangan bayi diletakkan di belakang badan ibu, dan yang satu di depan.
 Perut bayi menempel pada badan ibu, kepala bayi menghadap payudara (tidak hanya membelokkan kepala bayi).
 Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus.
 Ibu menatap bayi dengan penuh kasih saying.
 Payudara dipegang dengan ibu jari di atas dan 4 jari lain menopang di bawah, jangan menekan puting susu atau kalang payudara saja.
 Bayi diberi rangsangan agar membuka mulut dengan cara menyentuh pipi dengan putting susu atau menyentuh sisi mulut bayi.
 Setelah bayi membuka mulut, dengan cepat kepala bayi didekatkan ke payudara ibu dan putting serta kalang payudara dimasukkan ke mulut bayi.
 Setelah selesai menyusui, mulut bayi dibersihkan kemudian disendawakan.
 Biarkan puting kering dengan sendirinya.
c. Lama menyusui
 Sebaiknya menyusui bayi tanpa dijadwal (on demand), karena bayi akan menetukan sendiri kebutuhannya.
 Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara sekitar 5-7 menit dan ASI dalam lambung bayi akan kosong dalam waktu 2 jam.
 Pada amalnya bayi akan menyusu dengan jadwal yang tidak teratur, dan akan mempunyai pola tertentu setelah 1-2 minggu kemudian.
 Pada hari-hari pertama, biasanya ASI belum keluar, bayi cukup disusukan selama 4-5 menit, untuk merangsang produksi ASI dan membiasakan putting susu diisap oleh bayi.

Template by : kendhin x-template.blogspot.com